Asal Mula Nama Kampung Paummisang



Paummisang adalah nama sebuah kampung yang berada di daerah Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Indonesia. Kata paummisang berasal dari bahasa Mandar yang berarti tumpukan ampas tebu. Menurut cerita yang beredar di kalangan masyarakat Mandar, nama paummisang ini diambil dari nama seorang kakek yang bernama Kanne Paummisang. Mengapa kakek itu dipanggil Kanne Paummisang? Mengapa pula nama kakek itu diabadikan menjadi sebuah nama kampung? Jawabannya dapat Anda temukan dalam cerita Asal Mula Nama Kampung Paummisang berikut ini.

** * **
Konon, di daerah Tinambung Mandar, Sulawesi Barat, ada seorang kanne (kakek) yang hidup seorang diri di sebuah rumah sederhana yang terletak di tengah-tengah kebunnya. Meskipun tempat tinggalnya cukup jauh dari permukiman penduduk, ia sering bergaul dengan penduduk yang setiap hari melintas di kebunnya. Pekerjaan sehari-harinya adalah menanam sayur-sayuran, umbi-umbian, jagung, tebu, dan kelapa di kebunnya. Ia seorang petani kebun yang sangat rajin, ulet, dan teliti dalam merawat tanamannya, sehingga hasilnya pun cukup melimpah.
Kakek itu memiliki suatu kebiasaan aneh. Ia senang sekali minum air tebu dengan cara mengigiti batang tebu yang telah dikupas kulitnya. Kemudian ampas tebu tersebut ia kumpulkan di ruang tengah rumahnya. Begitulah yang ia lakukan setiap hari hingga ampas tebu tersebut terus menumpuk. Oleh karenanya, orang kampung memanggilnya Kanne Paummisang, yakni seorang kakek yang suka menumpuk ampas tebu di rumahnya.
Di mata penduduk sekitar, Kanne Paummisang adalah orang yang ramah, baik hati, dan dermawan. Ia senantiasa memberikan hasil perkebunannya kepada penduduk kampung yang membutuhkan. Bahkan ia sering mempersilahkan para tetangga kebunnya untuk mengambil apa aja di kebunnya tanpa perlu minta izin kepadanya terlebih dahulu. Kanne (Nenek) Golla adalah salah seorang tetangga kebunnya yang sering ia persilahkan untuk mengambil apa saja di kebunnya.
Pada suatu hari, Kanne Golla lewat di kebun Kanne Paummisang. Saat berada di tengah-tengah kebun, nenek itu tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke sekelilingnya sambil memerhatikan isi kebun Kanne Paummisang. Rupanya, Nenek Golla tertarik melihat hasil perkebunan Kanne Paummisang yang tumbuh subur dan hijau, terutama tanaman jagungnya. Ia ingin sekali memetik beberapa bongkol jagung itu. Namun, ia tetap merasa sungkan kepada KannePaummisang, meskipun sudah diizinkan sebelumnya.
Kanne Golla yang masih berdiri di tengah kebun itu tidak menyadari jika ada sepasang mata yang sedang memerhatikannya. Ia adalah Kakek Paummisang yang sedang duduk sambil menggigit batang tebu di dalam rumahnya. Setelah menghabiskan air tebunya, kakek itu segera turun darirumahnya dengan menuruni beberapa anak tangga, dan segera menghampiri Kanne Golla. Melihat Kanne Paummisang berjalan ke arahnya, Kanne Golla segera beranjak dari tempatnya berdiri.

“Maaf, Kanne Golla! Adakah yang bisa aku bantu?” tanya Kanne Paummisang kepada ‘Kanne’ Golla.
“Jika ada sesuatu yang menarik hatimu di kebunku ini, silahkan ambil sesukamu. Tidak perlu sungkan. Aku malah senang sekali jika banyak orang yang menikmatinya,? tambah Kanne Paummisang.
“Iya, sebenarnya aku sangat tertarik melihat tanaman jagungmu. Jika berkenan, bolehkah aku memetiknya dua bongkol?” tanya Kanne Golla dengan malu-malu.
“Tentu saja boleh, saudariku! Kamu boleh mengambil sesuka hatimu dan sekuat kamu membawanya,” jawab Kanne Paummisang sambil tersenyum.
“Terima kasih! Kamu memang orang yang baik hati dan dermawan,” Ucap Kanne Golla.
Setelah memetik beberapa bongkol jagung, Kanne Golla pun berpamitan pulang dengan perasaan senang. Demikian pula Kanne Paummisang, ia merasa sangat senang jika hasil perkebunannya bermanfaat untuk orang banyak. Demikian seterusnya, ia senantiasa menawarkan hasil perkebunannya kepada siapa pun yang lewat di kebunnya.
 Keesokan harinya, ketika Kanne Paummisang sedang asyik minum air tebu, tiba-tiba seorang penduduk kampung bernama Pak Hardi lewat di kebunnya. Ia pun segera memetik beberapa bongkol jagung lalu memberikannya kepada Hardi.
“Terima kasih, Kanne Paummisang,” ucap Hardi.
“Sama-sama, Pak Hardi!? jawab Kanne Paummisang tersenyum.
“Aku sangat senang jika hasil kebunku ini dinikmati orang banyak. Jika masih ada isi kebunku yang kamu senangi, katakan saja padaku! Aku akan memberikannya kepadamu,? tambah Kanne Paummisang menawarkan.

“Terima kasih, Kanne! Kanne memang orang yang dermawan,? ucap Hardi.
Setelah menyerahkan jagung itu kepada Pak Hardi, Kanne Paummisang kembali meminum air tebunya yang masih tersisa dan membuang ampasnya di ruang tengah rumahnya. Melihat perilaku Kanne Paummisang itu, Pak Hardi yang masih berada di kebun Paummisang langsung menggeleng-gelengkan kepala.

“Kanne Paummisang memang orang baik, tapi perilakunya aneh. Untuk apa ia menumpuk ampas tebu itu?” tanya Pak Hardi dalam hati penuh keheranan lalu pergi meninggalkan kebun Kanne Paummisang menuju ke perkampungan.

Begitulah tanggapan setiap penduduk yang melewati kebunnya. Mereka terheran-heran melihat kebiasaan aneh Kanne Paummisang menumpuk ampas tebu di ruang tengah rumahnya.
Semakin hari rumah Kanne Paummisang semakin penuh dengan tumpukan ampas tebu. Anehnya lagi, ia terkadang tertidur di atas tumpukan ampas tebu itu. Para penduduk yang sering melewati kebunnya semakin terheran-heran melihat kelakuan anehnya itu.
Walaupun demikian, semakin hari Kanne Paummisang juga semakin dermawan kepada semua penduduk. Penduduk yang paling sering ia beri hasil perkebunannya adalah Kanne Golla. Karena selain bertetangga kebun, rupanya mereka juga sudah berteman sejak kecil. Akhirnya, hubungan persahabatan mereka pun semakin akrab. Untuk membalas budi baik Kanne Paummisang, Kanne Golla pun sering membawakannya makanan, baik berupa ikan bakar, kue, gula pasir, kopi, dan lain-lain.
Pada suatu hari, Kanne Golla datang mengantarkan makanan untuk Kanne Paummisang. Setibanya di depan rumahnya, ia melihat pintu rumah itu tertutup rapat.

“Kanne Paummisang... ! Kanne Paummisang... !” teriak Kanne Golla sambil mengetuk pintu.

Berkali-kali Kanne Golla mengetuk pintu dan berteriak memanggil Kanne Paummisang, namun tidak mendapat jawaban sama sekali. Oleh karena penasaran, ia pun mencoba mendorong pintu rumah Kanne Paummisang. Rupanya, pintu itu tidak terkunci, sehingga ia dapat masuk ke dalam rumah. Alangkah terkejutnya Kanne Golla saat mendapati Kanne Paummisang sudah tidak bernyawa lagi dan terbujur kaku di atas tumpukan ampas tebunya. Akhirnya, Kanne Golla segera memanggil orang-orang kampung untuk menguburkan jenazah Kanne Paummisang di tengah-tengah kebunnya. Untuk mengenang kebaikan dan kedermawanan Kanne Paummisang, para penduduk menamakan kampung mereka “ Kampung Paummisang”.

** * **

Demikian cerita Asal Mula Nama Kampung Paummisang dari daerah Sulawesi Barat, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori legenda legenda-gunung-batu-bangkai yang mengandung pesan-pesan moral yang patut dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu: sifat rajin dan tekun bekerja, dan sifat suka bertanam budi (berbudi).

Pertama, sifat rajin dan tekun bekerja. Sifat ini tercermin pada perilaku Kanne Paummisang yang sangat rajin, tekun dan ulet merawat tanamannya, sehingga hasilnya pun dapat bermanfaat untuk orang banyak. Dalam kehidupan Melayu, sifat rajin, tekun dan ulet bekerja sangatlah diutamakan. Dikatakan dalam untaian syair tunjuk ajar Melayu:

wahai ananda cahaya mata,
rajin dan tekun dalam bekerja
penat dan letih usah dikira
supaya kelak hidupmu sejahtera

Kedua, sifat suka bertanam budi (berbudi). Sifat ini juga dicerminkan oleh sikap dan perilaku /Kanne/ Paummisang yang senantiasa berbuat kebajikan kepada orang lain dengan cara mendermakan sebagian hasil perkebunannya kepada penduduk sekitar. Oleh karena kederamawannya itu, penduduk sekitar mengabadikan namanya menjadi nama kampung mereka, agar mereka dapat terus mengenangnya. Dikatakan dalam untaian syair tunjuk ajar Melayu

wahai ananda intan baiduri,
manfaatkan umurmu untuk berbudi
berbuat kebajikan sebelum mati
semoga hidupmu tiada terkeji


Sumber :

•    Isi cerita diadaptasi dari Bustan Basir Maras. 2007. /Carita Kumpulan Dongeng dan Cerita Rakyat Sulawesi Barat./ Yogyakarta:  Annora Media.
•    Anonim, “Kecamatan Tinambung, ”http://id.wikipedia.org/wiki/Tinambung,_Polewali_Mandar, 
•    diakses tanggal 25 Agustus 2008.
•    Effendy, Tenas. 2006. /Tunjuk Ajar/ /Melayu./ Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.
Read more

I Karake Lette

Sulawesi Barat - Indonesia
 
I Karake’lette” adalah seorang laki-laki cacat yang hidup di zaman kerajaan Balanipa Mandar, Sulawesi Barat, Indonesia. Walaupun cacat, ia menjadi penentu kemenangan Kerajaan Balanipa dalam perang melawan Kerajaan Gowa, dengan menaklukkan Raja Gowa. Bagaimana I Karake’lette’ yang berkaki cacat itu berhasil menaklukkan Raja Gowa? Kisah selanjutnya dapat Anda ikuti dalam cerita I Karake’lette’ berikut ini.
* * *
Alkisah, di daerah Mandar Sulawesi Barat, terdapat sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Balanipa. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Rakyatnya hidup damai, sejahtera, aman, dan sentosa.
Pada suatu hari, kedamaian mereka terusik oleh sebuah kabar buruk bahwapasukan Kerajaan Gowa kerajaan-gowa  dengandipimpin oleh rajanya akan datang menyerang negeri mereka. Mendengarkabar tersebut, Raja Balanipa segera bermusyawarah dengan para ponggawadan pembesar kerajaan untuk menyusun strategi dalam menghadapi serangan musuh.
“Saya kira kalian sudah mendengar kabar buruk ini. Apakah kalian sudah
siap menghadapi mereka?” tanya Raja kepada para peserta sidang.
“Ampun Baginda! Hamba mendengar Kerajaan Gowa akan mengerahkan seluruh pasukannya untuk menyerang kita. Mereka juga mempunyai seorang panglima perang yang sangat tangguh dan pemberani. Sementara pasukan yang kita miliki jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pasukan musuh,? Jelas salah seorang ponggawa kerajaan kepada Raja.

“Benar Baginda! Kita harus menambah jumlah prajurit untuk mengimbangi serangan musuh,? tambah salah seorang pembesar kerajaan.

Mendengar keterangan itu, Raja Balanipa terdiam sejenak. Ia berpikir keras bagaimana caranya untuk mengatasi masalah tersebut. Para ponggawa dan pembesar kerajaan pun menundukkan kepala. Suasana sidang pun menjadi hening. Beberapa saat kemudian, sang Raja menemukan sebuah cara.

“Mmm... kalau begitu, bagaimana kalau kita mengadakan sayembara?” usul sang Raja.
“Ampun Baginda! Sayembara apa yang Baginda maksud ?” tanya salah seorang pembesar kerajaan lainnya bingung.
“Sayembara tobarani  (yaitu sayembara para jawara dan pemberani) untuk kita angkat sebagai prajurit kerajaan.  Apakah kalian setuju?” tanya sang Raja.
“Setuju Baginda!” sahut para ponggawa dan pembesar kerajaan serentak.
Setelah itu, para ponggawa dan pembesar kerajaan segera menyebar ke seluruh penjuru kota, pelosok-pelosok desa, dan bahkan ke perkampungan-perkampungan untuk menyebarkan pengumuman tentang sayembara tersebut. Dalam waktu sehari, kabar tentang pelaksanaan sayembara itu pun tersebar ke seluruh masyarakat Kerajaan Balanipana.
Pada hari yang sudah ditentukan, ratusan tobarani yang datang dari berbagai penjuru berkumpul di halaman istana untuk mengikuti sayembara tersebut. Mereka datang dengan membawa senjata pusaka masing-masing. Ada yang membawa golok, parang, badik, keris, tombak, dan jenis senjata lainnya.
Pelaksanaan sayembara tobarani  tersebut benar-benar menjadi pusat perhatian seluruh rakyat Kerajaan Balanipa. Orang-orang yang memadati halaman istana bukan hanya peserta sayembara, tetapi juga masyarakat biasa yang ingin menyaksikan sayembara tersebut.
Tidak berapa lama kemudian, Raja Balanipa tampak berdiri di hadapan para peserta sayembara.

“Wahai rakyatku sekalian! Sebagaimana yang telah kalian ketahui, kerajaan kita akan diserang oleh pasukan Kerajaan Gowa. Mereka ingin menghancurkan dan merebut tanah kelahiran kita. Untuk itulah saya mengundang  kalian di tempat ini untuk saya pilih menjadi prajurit guna menghalau serangan mereka,” kata sang Raja.
“Barang siapa yang mampu menghalau dan menangkap pemimpin pasukan musuh, akan mendapatkan hadiah sebidang tanah sesuai dengan permintaannya,” janji sang Raja memberi semangat kepada rakyatnya.
“Setuju....!!!” seru para tobarani dengan penuh semangat.
Setelah menyampaikan pidatonya, sang Raja pun segera membuka sayembara tobarani tersebut. Satu per satu peserta sayembara memasuki arena untuk memeragakan keahlian bela diri dan kesaktian mereka. Sorak-sorai penonton pun bergemuruh memberi semangat kepada para calon prajurit yang akan membela tanah kelahiran mereka. Setelah sayembara digelar, terpilihlah puluhan peserta yang bergabung dengan prajurit lainnya untuk menghalau serangan musuh.
Suasana di dalam ibukota Kerajaan Balanipa tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ada yang sibuk mempersiapkan bekal makanan, ada juga yang sibuk mempersiapkan perlengkapan perang kerajaan seperti pedang, tombak, panah, jambia (sangkur), dan lain-lain. Senjata-senjata tersebut kemudian akan diangkut oleh beberapa bendi atau gerobak kuda maupun sapi menuju ke dermaga teluk Mandar yang terletak cukup jauh dari kota kerajaan. Pasukan Kerajaan Balanipa akan menghalau pasukan musuh sebelum menyerang kota kerajaan.
Sebelum berangkat ke medan perang, seluruh pasukan tanah Mandar Balanipa berkumpul di halaman istana untuk mendapatkan arahan dari Raja Balanipa.

“Wahai prajuritku! Tanah Mandar Balanipa adalah tanah kelahiran kita. Kita harus berjuang untuk mempertahankan tanah air kita tercinta ini dari serangan musuh,” ujar Raja Balanipa.
“Hidup Raja Balanipa... !!! Hidup Tanah Mandar... !!! teriak para prajurit serentak dengan penuh semangat.
Setelah itu, berangkatlah seluruh pasukan Tanah Mandar Balanipa menuju ke teluk Mandar untuk menghadang pasukan musuh yang akan berlabuh di dermaga.
Sementara itu, dari kejauhan di tengah lautan biru tampak sejumlah kapal perang yang cukup besar berbendara Kerajaan Gowa sedang bergerak dari arah selatan menuju dermaga Teluk Mandar. Rupanya, pasukan Kerajaan Gowa benar-benar akan menyerang dan membumihanguskan Kerajaan Balanipa untuk menguasai Tanah Mandar.
Tidak berapa lama kemudian, seluruh kapal perang tersebut berlabuh di dermaga Teluk Mandar. Namun, sebelum menyerbu kota Kerajaan, mereka sudah dihadang oleh pasukan Kerajaan Balinipa yang baru saja tiba di dermaga itu. Akhirnya, pertempuran sengit antara kedua pasukan pun tidak dapat dihindari lagi.
Dalam pertempuran tersebut tampak Raja Gowa memimpin pasukannya dengan penuh semangat. Demikian pula panglima perang Kerajaan Balanipa tampak memberi semangat kepada pasukannya agar terus melakukan perlawanan. Namun karena pasukan Kerajaan Gowa lebih banyak dan tangguh, pasukan Kerajaan Balanipa akhirnya kewalahan menangkis serangan musuh. Melihat keadaan itu, panglima perang Kerajaan Balanipa segera memerintahkan pasukannya untuk mundur kembali ke kota raja. Sedangkan pasukan Kerajaan Gowa kembali ke kapalnya untuk mempersiapkan strategi baru, kemudian kembali menyerang kota raja Balanipa.

Sementara itu, Raja Balanipa menjadi panik setelah mendapat laporan bahwa prajuritnya banyak yang gugur di medan perang. Para tobarani  (pemberani)nya sudah tewas dalam peperangan tersebut. Dengan kondisi demikian, tidak mungkin mereka mampu melawan musuh. Akan tetapi, jika tidak melakukan perlawanan, berarti kalah, serta siap untuk menyerahkan Kerajaan Balanipa kepada pihak musuh. Hal itu berarti bunuh diri. Bagi orang Mandar, lebih baik mati membela tanah air daripada mati bunuh diri.
Dalam keadaan panik, sang Raja segera memerintahkan para prajuritnya yang masih tersisa untuk kembali mencari tobarani ke pelosok-pelosok desa dan perkampungan yang siap melawan musuh. Namun setelah mencari ke mana-mana, mereka tidak menemukan seorang pun yang mau menjadi prajurit. Kecuali ada seorang laki-laki setengah baya, itu pun ia seorang cacat kakinya yang tidak dapat berjalan.
Tanpa dipanggil dan diperintah, orang cacat itu datang menghadap kepada Raja Balanipa ke istana dengan cara merangkak.
“Hei, kamu siapa dan apa maksud kedatanganmu kemari?” tanya Raja Balanipa.
“Nama saya Kaco”, Puang Tapi, orang di kampung lebih akrab memanggil nama hamba I Karake”lette” Hamba datang menghadap, karena ingin membantu Puang memenangkan peperangan ini,”  jawab laki-laki cacat itu.
“Ha...ha...ha...! Apakah kamu tidak sadar dengan kondisimu itu? Jangankan berperang, berjalan pun kamu tidak mampu,? ucap Raja Balanipa dengan nada merendahkan.
“Insya Allah! Jika Puang mengizinkan, hamba sanggup mengalahkan pasukan musuh,” kata I Karake’lette’ dengan penuh keyakinan.
“Dengan cara apa kamu melawan musuh, I Karake’lette’?? tanya sang Raja  penasaran.
“Dengan jeruk nipis, Puang!” jawab I Karake’lette’.
Mendengar jawaban I Karake’lette’, sang Raja semakin bingung. Ia menganggap I Karake?’lette’ adalah orang yang aneh. Oleh karenanya, ia tidak mau bertanya lagi kepadanya, karena khawatir mendapat jawaban yang akan membuatnya semakin bingung. Akhirnya, dengan perasan ragu, sang Raja mengizinkannya pergi ke medan perang.
“Jika kamu berhasil memenangkan peperangan ini, apa permintaanmu?”
“Ampun, Puang ! Hamba tidak ingin meminta sesuatu apa pun kepada Puang sebelum berhasil mengusir musuh dari tanah Mandar Balanipa ini,” jawab I Karake’lette’.

Setelah berpamitan kepada sang Raja, I Karake’lette’ meninggalkan istana menuju dermaga Teluk Mandar untuk mencari Raja Gowa. Ia berangkat tanpa dilengkapi dengan persenjataan perang apapun. Ia hanya berbekal dua buah jeruk nipis dan makanan untuk selama di perjalanan.
Setelah berjalan selama tujuh hari tujuh malam I Karake’lette’ pun tiba di dermaga Teluk Mandar. Bagi orang normal, perjalanan dari kota kerajaan menuju dermaga hanya ditempuh selama satu hari. Sesampainya di dermaga, ia melihat di dalam sebuah kapal perang ada keramaian dan terdengar suara musik. Rupanya, Raja Gowa dan pasukannya sedang berpesta ria merayakan kemenangan mereka.

Tanpa berpikir panjang, dengan pelan I Karake'lette" menaiki kapal perang itu, kemudian menyelinap ke tengah-tengah keramaian pesta, dan tiba-tiba ia sudah berada di hadapan Raja Gowa yang sedang duduk di singgasananya. 

“Hei, siapa kamu! Beraninya kamu mengganggu pestaku!? bentak Raja Gowa.
Mendengar bentakan itu, suasana pesta yang semula gegap gempita, berubah menjadi tegang. Seluruh prajurit segera menghunus senjata masing-masing untuk bersiap jika orang aneh itu secara tiba-tiba menyerang raja mereka. Salah seorang prajurit tiba-tiba maju ingin menyeret dan mengusirnya dari kapal, karena dianggap sudah tidak berlaku sopan terhadap raja mereka.

“Tunggu dulu, prajurit! Jangan usir orang aneh itu!” cegah sang Raja.
Semua yang hadir dalam pesta itu terdiam sambil memandangi I Karake’lette’ dengan wajah geram.
“Hei, orang cacat! Siapa kamu ini?” sang Raja kembali bertanya.
“Saya adalah utusan dari Kerajaan Mandar Balanipa datang untuk menantang Karaeng ! Tapi dengan syarat, jika Karaeng menang, Kerajaan Mandar Balanipa dan seluruh isinya akan menjadi milik Karaeng. Tapi, jika Karaeng kalah, Karaeng harus meninggalkan tanah Mandar Balanipa ini dan jangan pernah kembali lagi!” jelas I Karake”lette” dengan suara lantang.

Mendengar penjelasan itu, wajah Raja Gowa tiba-tiba menjadi merah seakan terbakar api. Baru kali ini ada orang yang berani menantangnya, apalagi hanya seorang cacat. Oleh karena tidak ingin wibawanya jatuh di hadapan prajuritnya, Raja Gowa menerima tantangan itu. Tanpa berpikir panjang, ia pun segera melompat dari singgasananya dan langsung berdiri tidak jauh dari hadapan I Karake’lette’.
“Bersyahadatlah hei orang cacat, karena sebentar lagi kamu akan mati!” seru sang Raja sambil menghunus badiknya yang terselip di pinggang kirinya.
“Tahan dulu, Karaeng!” cegah I Karake’lette’.
“Saya masih ada satu permintaan lagi,” tambahnya sambil mengeluarkan dua buah jeruk nipis dari sakunya.
“Apa lagi yang kamu inginkan?? tanya Raja Gowa tidak sabar ingin menikam I Karake’lette’.

“Lihatlah! Di tangan saya ada dua buah jeruk nipis yang menjadi peramal nasib kita. Satu untukmu dan satu untukku,” kata I Karake’lette’ lalu melemparkan salah satu jeruk itu ke arah Raja Gowa.
“Untuk apa jeruk ini?" tanya Raja Gowa bingung.
“Begini Karaeng ! Jeruk yang saya pegang ini saya lemparkan ke arah Karaeng. Kemudian tebaslah jeruk ini dengan sesuka hati sebelum sampai ke lantai. Apapun jadinya jeruk ini nantinya, begitulah nasib saya. Demikian pula sebaliknya, jeruk yang ada di tangan Karaeng lemparkan ke arah saya, dan saya akan berbuat seperti yang Karaeng lakukan. Apapun hasilnya, begitulah nasib Karaeng,” jelas I Karake’lette’ sambil tersenyum.

Kemarahan Raja Gowa pun semakin memuncak. Wajahnya semakin merah membaradan tubuhnya gemetar. Ia merasa sangat rendah di hadapan orang cacat itu. Suasana pun semakin mencekam dan penuh ketegangan. Hati para prajurit Kerajaan Gowa diselimuti perasaan khawatir. Jangan-jangan raja mereka tidak berhasil menebas jeruk nipis itu.

“Mari ‘Karaeng’ kita mulai permainan ini!” seru I Karake’lette’.
“Baik! Aku akan menebas dan mengiris-iris jeruk nipis itu setipis kulitmu,? kata Raja Gowa dengan sombong.
Saat I Karake’lette’ melemparkan jeruk nipisnya ke arah Raja Gowa, pada saat itulah sang Raja langsung mengibas-ngibaskan keris saktinya ke arah jeruk itu. Namun malang nasib sang Raja, karena ia tidak berhasil menebas jeruk itu, walaupun hanya kulitnya. Dengan perasaan kesal dan malu, Raja Gowa memberikan kerisnya, lalu melemparkan jeruknya ke arah I Karake’lette’. Tanpa diduga, I Karake’lette’ mampu menebas jeruk nipis itu hingga terbelah menjadi dua dan jatuh tepat di kaki Raja Gowa.
“Lihatlah jeruk itu Karaeng! Nasib Karaeng hari ini akan seperti itu,? kata I Karake’lette’ dengan nada mengejek.

Raja Gowa bertambah marah melihat perlakuan I Karake’lette’ terhadap dirinya. Tanpa berpikir panjang, ia pun segera merampas keris dari tangan salah seorang prajuritnya lalu menikamkannya ke tubuh I Karake’lette’. Namun dengan gesit dan lincah, I Karake’lette’ mampu mengelak dari serangan sang Raja. Pada saat itu pula, ia langsung berbalik menyerang dengan mengibaskan keris yang dipegangnya ke arah Raja Gowa. Nasib  Raja Gowa benar-benar seperti yang diramalkan sebelumnya, tubuhnya terbelah menjadi dua bagian seperti jeruk nipis. Akhirnya, Raja Gowa jatuh tersungkur di lantai dan tewas terkena senjatanya sendiri.
Para prajurit hanya tercengang menyaksikan peristiwa itu. Tak seorang pun di antara mereka yang berani maju. Bahkan, ada yang langsung melarikan diri dan melompat ke laut. Sementara I Karake’lette’ segera meninggalkan kapal itu dan kembali ke kota raja Balanipa. Sesampainya di depan pintu gerbang kota raja, ia disambut meriah oleh seluruh masyarakat kota Balanipa. Raja Balanipa pun segera menyambut dan langsung memeluknya.

“Maafkan aku I Karake”lette”, karena telah meremehkanmu,” kata Raja Balanipa terharu.
“Sekarang, katakan apa permintaanmu?” tanyanya.
“Hanya ada satu permintaan Hamba, Puang!” jawab I Karake’lette’.
“Apakah itu I Karake’lette’, katakanlah!’ desak Raja Balanipa.
“Hamba mohon ditandu naik ke puncak bukit itu. Hamba ingin berucap rasa syukur kepada Tuhan atas kemenangan ini,” kata I Karake’lette’ sambil menunjuk ke arah bukit itu yang terletak di sebelah barat kota raja.
Raja Balanipa pun memenuhi permintaan  itu. Sesampainya di atas bukit, I Karake’lette’ langsung berteriak sekeras-kerasnya sebagai rasa syukur atas kemenangannya mengalahkan pasukan Kerajaan Gowa. Pada saat itu pula, Raja Balanipa memutuskan bahwa sejauh orang mendengar suara teriakan I Karake’lette’, sejauh itu pulalah tanah beserta seluruh isinya menjadi milik I Karake’lette’ sebagai hadiah dan ucapan terima kasih dari Raja Balanipa. Selain itu, I Karake ‘lette’ juga diangkat menjadi salah seorang ponggawa kerajaan Balanipa. Akhirnya, ia pun hidup makmur dan sejahtera dalam istana.

** * **

Demikian cerita I Karake'lette' dari Mandar, Sulawesi Barat, Indonesia. Cerita di atas termasuk ke dalam kategori cerita legenda legenda-gunung-batu-bangkai yang mengandung pesan-pesan moral. Setidaknya ada dua pesan moral yangdapat dipetik dari cerita di atas, yaitu keutamaan sifat cinta tanah air dan rela berkorban demi keadilan. Kedua sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku I Karake'lette' yang rela mempertaruhkan nyawanya demi membela keadilan dan mempertahankan tanah airnya dari serangan musuh. Dikatakan dalam ungkapan Melayu:

Apa tanda Melayu jati,
Membela negeri sampai ke mati
Apa tanda Melayu terpuji,
Membela keadilan pantang lari

Sumber:
•    Isi cerita diadaptasi dari Basir Maras, Bustan. 2007. Carita: Kumpulan Dongen dan Cerita Rakyat Sulawesi Barat. Yogyakarta:  Annorka Media.
•    * Anonim. “Sulawesi Barat,” (http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Barat, diakses tanggal 19 (Agustus 2008).
•    Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu.  Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit Adicita.


       
------------------------------------------------------------------------

[1] Puang adalah sapaan untuk para pembesar kerajaan dan orang tua di Mandar.

[2] I karake’lette’ artinya orang yang berkaki cacat.

[3] Karaeng adalah sebutan bagi raja atau orang ningrat di kerajaan Gowa.

Read more

Panglima To Dilaling

Sulawesi Barat - Indonesia

 
Todilaling adalah seorang raja yang pernah memerintah di daerah Polewali Mandar,
Sulawesi Barat, Indonesia. Ia adalah putra Raja Balanipa yang selamat
dari ancaman pembunuhan ayahnya. Raja Balanipa terkenal memiliki tabiat
yang aneh, yaitu tidak mau mempunyai anak laki-laki. Setiap kali
permaisurinya melahirkan seorang anak laki-laki, ia langsung
membunuhnya. Mengapa Raja Balanipa tidak mau mempunyai anak laki-laki?
Lalu, bagaimana To Dilaling dapat selamat dari ancaman pembunuhan
ayahnya hingga ia dapat menjadi raja? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam
cerita /Panglima To Dilaling/ berikut ini.

** * **
Alkisah, di sebuah bukit yang bernama Napo di daerah Tammajarra, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Balanipa yang dipimpin oleh Raja Balanipa. Sudah tiga puluh tahun sang Raja berkuasa, namun tidak mau turun dari tahtanya. Ia ingin berkuasa sepanjang masa. Untuk itu, ia senantiasa menjaga kesehatan badannya dengan cara berolahraga secara teratur, berburu, minum jamu dan obat ramuan tabib terkenal agar tetap awet muda dan panjang umur.
Raja Balanipa memiliki empat orang anak, dua putra dan dua putri. Akan tetapi, kedua putranya sudah dibunuhnya, karena ia tidak mau mewariskan tahtanya kepada mereka. Sementara sang Permaisuri selalu merasa cemas jika sedang mengandung. Jangan-jangan anak yang dikandungnya itu seorang bayi laki-laki. Ia sudah tidak kuat lagi melihat anaknya dibunuh oleh suaminya sendiri. Ia pun selalu berdoa kepada Tuhan, agar anak yang dikandungnya kelak adalah bayi perempuan.
Pada suatu waktu, sang Permaisuri sedang hamil besar. Ketika itu, Raja Balanipa hendak pergi berburu di daerah Mosso. Sebelum berangkat, sang Raja berpesan kepada panglima perangnya yang bernama Puang Mosso.
"Puang Mosso! Tolong jaga Permaisuriku yang sedang hamil besar itu!
Jika aku belum kembali dan ia melahirkan anak laki-laki, maka bunuhlah anak itu!" titah Raja Balanipa.
"Baik, Baginda! Segala perintah Baginda pasti hamba laksanakan," jawab Puang Mosso sambil memberi hormat.
Setelah itu, berangkatlah Raja Balanipa ke Mosso. Keesokan harinya, sang Permaisuri pun melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Namun anehnya, lidah bayi itu berwarna hitam dan berbulu.

Mengetahui permaisuri melahirkan, anjing pengawal raja segera menjilati kain bekas persalinan, sehingga meninggalkan darah di moncongnya. Kemudian anjing itu segera mencari sang Raja yang sedang berburu di daerah Mosso. Setelah menemukan tuannya, anjing itu terus menggonggong untuk memperlihatkan darah di moncongnya. Sang Raja yang mengerti jika permaisurinya telah melahirkan segera kembali ke istana.

Sementara itu, Puang Mosso sedang dilanda kebingungan setelah mengetahui sang Permaisuri melahirkan bayi laki-laki. Ia merasa kasihan dan tidak tega membunuh bayi itu. Sesaat ia berpikir keras untuk mencari cara agar sang Raja tidak murka dan bayi laki-laki itu tetap hidup.
"Mmm, aku tahu caranya. Aku akan menyembelih seekor kambing dan aku kuburkan, lalu membuatkan nisan di atas kuburannya, sehingga sang Raja akan mengira bahwa isi kuburan itu adalah putranya," pikir Puang Mosso lalu segera melaksanakan niatnya itu.
Oleh karena khawatir rahasianya diketahui sang Raja, Puang Mosso menitipkan bayi itu kepada keluarganya yang tinggal di sebuah kampung yang berada jauh dari istana.

Keesokan harinya, Raja Balanipa kembali dari berburu dan langsung menemui Puang Mosso.
"Bagaimana keadaan Permaisuri, Apakah ia sudah melahirkan?" tanya sang Raja.
"Ampun, Baginda! Sehari setelah Baginda berangkat, Permaisuri melahirkan seorang bayi laki-laki. Sesuai dengan pesan Baginda, hamba sudah menyembelih dan menguburkan bayi itu," jelas Puang Mosso.
"Di mana kamu kuburkan?" tanya sang Raja.
"Ampun, Baginda! Hamba menguburnya di samping kuburan putra Baginda yang lainnya,? jawab Puang Mosso.

Raja Balanipa belum yakin jika belum melihat langsung kuburan itu. Ia pun segera ke tempat perkuburan keluarga istana, dan tampaklah sebuah kuburan kecil yang masih baru. Sang Raja pun percaya bahwa bayi laki-lakinya sudah mati. Ia pun kembali menjalankan tugasnya sebagai raja dengan perasaan tenang, karena pewaris tahtanya sudah tidak ada lagi.

Waktu terus berjalan. Putra raja yang tinggal di sebuah kampung sudah besar. Dia sudah lancar berbicara dan mengenal orang-orang di sekelilingnya. Ia juga sangat akrab dengan Puang Mosso, karena hampir setiap minggu Puang Mosso membesuknya secara diam-diam. Oleh karena khawatir rahasianya diketahui oleh sang Raja, Puang Mosso menitipkan anak itu kepada seorang pedagang yang akan berlayar menuju Pulau Salemo yang berada jauh dari bukit Napo.

Di Pulau Salemo, putra raja itu tumbuh menjadi anak yang sehat. Ia diasuh dan dididik oleh keluarga pedagang yang membawanya ke tempat itu. Ia sangat tekun bekerja dan mahir memanjat pohon kelapa.

Pada suatu hari, ketika ia sedang memanjat pohon kelapa, tiba-tiba seekor burung rajawali raksasa menyambarnya, lalu membawanya terbang ke tempat yang jauh. Ketika sampai di daerah Gowa, anak itu terlepas dari cengkeraman rajawali raksasa sehingga terjatuh di tengah sawah dan ditemukan oleh seorang petani. Si petani pun segera melaporkan hal itu kepada Raja Gowa, Tumaparissi Kalonna.
"Ampun, Baginda! Hamba menemukan seorang anak laki-laki berbaju merah di tengah sawah yang terlepas dari cengkeraman seekor burung rajawali raksasa."

"Di mana anak itu sekarang?" tanya Raja Gowa.
"Ada di rumah hamba, Baginda!" jawab petani itu.
"Pak Tani! Bawa anak itu kemari, aku ingin melihatnya!" titah Raja Gowa.

Mendengar perintah sang Raja, petani itu segera menjemput anak itu di rumahnya. Beberapa lama kemudian, petani itu sudah kembali ke istana bersama dengan anak itu. Ketika sang Raja melihat dan mengamati anak itu, ia langsung tertarik melihat tubuh anak itu.

"Waaah, kekar sekali tubuh anak ini! Jika anak ini aku rawat dan didik dengan baik, kelak ia akan menjadi pemuda yang gagah perkasa," pikir Raja Gowa.

"Hei, anak kecil! Kamu siapa dan dari mana asalmu?"tanya Raja Gowa.

Putra Raja Balanipa itu menceritakan asal-usulnya hingga ia dapat sampai di tempat itu. Sang Raja menjadi terharu mendengar cerita anak itu. Akhirnya, Raja Gowa merawat dan mendidiknya hingga menjadi pemuda gagah perkasa dan sakti. Kemudian ia mengangkatnya menjadi panglima perang(tobarani) Kerajaan Gowa. Sejak putra Raja Balanipa itu menjadi panglima perang, pasukan Kerajaan Gowa selalu menang dalam peperangan. Panglima perang Kerajaan Gowa itu pun terkenal hingga ke berbagai negeri. Raja Gowa kemudian memberinya gelar I Manyambungi.

Sementara itu, di Kerajaan Balanipa, kondisi keamanan sedang kacau-balau. Rupanya Raja Balanipa yang merupakan ayah kandung Panglima I Manyambungi telah wafat dan digantikan oleh Raja Lego yang terkenal sakti. Raja tersebut sangat kejam dan bengis. Ia suka menganiaya rakyat, baik yang berada di wilayah kekuasaannya maupun yang berada di negeri sekitarnya, yaitu negeri Samsundu, Mosso dan Todang-Todang.
Hal itu membuat raja-raja negeri bawahannya menjadi resah dan benci kepadanya. Untuk mengatasi hal itu, mereka pun mengadakan musyawarah untuk mencari cara menyingkirkan Raja Lego.

"Bagaimana caranya menyingkirkan Raja Lego yang kejam itu?" tanya salah seorang raja.

"Saya mendengar kabar bahwa Kerajaan Gowa memiliki seorang panglima perang yang sakti bernama I Manyambungi. Barangkali kita dapat meminta bantuannya untuk melawan Raja Lego," jawab seorang raja yang lain.

Para raja negeri bawahan itu pun bersepakat untuk mengundang Panglima I Manyambungi. Maka diutuslah beberapa perwakilan dari kerajaan-kerajaan bawahan ke Kerajaan Gowa. Sesampainya di Gowa, mereka pun segera menemui panglima sakti itu dan mengutarakan maksud kedatangan mereka.

"Maaf, Tuan! Kami adalah utusan dari kerajaan-kerajaan kecil di daerah Polewali Mandar. Maksud kedatangan kami adalah ingin meminta bantuan Tuan untuk melawan Raja Lego," lapor seorang utusan.

"Siapa Raja Lego itu?" tanya I Manyambungi.

"Dia adalah penguasa Kerajaan Balanipa yang menggantikan Raja Balanipa. Ia sangat kejam, suka menganiaya rakyat kami yang tidak berdosa," jelas salah seorang utusan.

I Manyambungi sangat terkejut saat mendengar jawaban itu. Ia jadi teringat dengan ayah dan keluarganya yang pernah diceritakan oleh Puang Mosso kepadanya semasa ia masih kecil.

"Bagaimana dengan Raja Balanipa dan keluarga istana lainnya?" tanya I Manyambungi penasaran.

" Raja Balanipa dan permaisurinya telah wafat. Sementara beberapa keluarga istana lainnya sedang mengungsi ke daerah Mosso.? jelas utusan itu.

"Bagaimana dengan Panglima Puang Mosso? Apakah ia masih hidup?" tanya I Manyambungi.

"Iya, Tuan! Dia masih hidup. Bahkan dialah yang telah menyelamatkan sebagian keluarga istana. Bagaimana Tuan dapat mengenal Puang Mosso?" tanya salah seorang utusan heran.

Panglima I Manyambungi pun menceritakan perihal asal-usulnya. Para utusan dari Mandar itu pun terkejut dan segera memberi hormat.

"Ampun, Tuan! Sungguh kami tidak mengetahui jika Tuan adalah putra Raja Balanipa," kata utusan serentak.

"Baiklah! Aku akan memenuhi permintaan kalian, tapi dengan syarat Puang Mosso yang harus datang sendiri menjemputku," pesan Panglima I Manyambungi.

"Baik, Tuan! Kami akan menyampaikan berita ini kepada Puang Mosso" jawab para utusan seraya berpamitan kembali ke Mandar.

Sesampai di Mandar, mereka segera menemui Puang Mosso. Mendengar laporan para utusan itu, Puang Mosso menjadi cemas. Oleh karena penasaran, Puang Mosso berlayar sendiri ke Gowa dengan hati berdebar-debar. Dalam perjalanan, ia selalu bertanya-tanya dalam hati.

"Siapa sebenarnya I Manyambungi itu. Kenapa harus aku yang menjemputnya? Jangan-jangan dia adalah putra Raja Balanipa yang pernah aku titipkan kepada seorang pedagang?"

Sesampainya di Gowa, Puang Mosso segera menghadap Panglima I Manyambungi. Saat berada di hadapan panglima yang sakti itu, hati Puang Mosso semakin berdebar kencang. Lain halnya dengan I Manyambungi yang selalu tersenyum sambil menatap Puang Mosso dengan mata berkaca-kaca. Puang Mosso bukanlah sosok yang asing di mata I Manyambungi.

"Benarkah Anda Puang Mosso?" tanya I Manyambungi.

"Benar, Tuan!" jawab Puang Mosso.

"Maafkan hamba Tuan! Maukah Tuan menjulurkan lidah sebentar?" Puang Mosso balik bertanya kepada I Manyambungi dengan perasaan ragu-ragu.

Ketika melihat lidah I Manyambungi berwarna hitam dan berbulu, maka semakin yakinlah Puang Mosso jika panglima itu adalah putra Raja Balanipa. Tanpa berpikir panjang, Puang Mosso segera memeluknya dengan erat sambil berkata: 

"Benar, engkaulah putra Raja Balanipa."

I Manyambungi pun membalas pelukan Puang Mosso sambil meneteskan air mata,  lalu berkata:

"Iya, Puang Mosso! Terima kasih karena engkau telah menyelamatkan nyawaku dan merawatku semasa aku masih kecil."

"Sudahlah, Tuan! Kita harus segera ke daerah Mandar untuk menyelamatkan warga yang tidak berdosa dan merebut kembali Kerajaan Napo dari tangan Raja Lego yang bengis dan kejam itu," ujar Puang Mosso.

"Baik, Puang Mosso! Kita berangkat saat tengah malam agar tidak ketahuanoleh Raja Gowa. Jika mengetahui hal ini, beliau pasti akan melarangku pergi,"kata I Manyambungi.

Pada saat tengah malam, Puang Masso dan Panglima I Manyambungi beserta beberapa pengikutnya meninggalkan istana Kerajaan Gowa. Setelah beberapa hari berlayar, kapal mereka pun merapat di pelabuhan Tangnga-tangnga. Semua peralatan perang mereka turunkan dari kapal dan kemudian membawanya ke bukit Napo. Sejak itu, Panglima I Manyambungi dikenal dengan nama Panglima To Dilaling.

Sementara itu, Raja Lego semakin kejam terhadap rakyat yang lemah. Segala keinginannya harus segera dipenuhi. Jika ia menginginkan harta atau pun gadis untuk dikawini, tidak seorang pun yang dapat menghalanginya. Akibatnya, seluruh warga menjadi resah dan semakin benci kepadanya. Maka, pada saat Panglima To Dilaling mengajak para warga untuk memerangi Raja Lego, mereka menyambutnya dengan senang hati dan penuh semangat.

Pada waktu yang telah ditentukan, Panglima To Dilaling beserta seluruh warga menyerbu istana Raja Lego. Pertempuran sengit pun tidak didapat dihindari lagi. Pada mulanya, pasukan Raja Lego dapat mengadakan
perlawanan. Namun , karena jumlah mereka lebih sedikit daripada pasukan Panglima To Dilaling, akhirnya mereka pun menyerah.

Sementara itu, Raja Lego yang dihadapi langsung oleh Panglima To Dilaling masih mampu melakukan perlawanan. Keduanya saling mengadu kesaktian. Tidak berapa lama kemudian, Raja Lego akhirnya kalah juga dan mati di ujung badik Panglima To Dilaling. Seluruh warga menyambut kemenangan itu dengan gembira. Akhirnya, Panglima To Dilaling dinobatkan menjadi raja di bukit Napo. Selama masa pemerintahan Panglima To Dilaling, negeri Napo dan sekitarnya menjadi aman, makmur dan sentosa. Hingga kini, makam Panglima To Dilaling dapat disaksikan di bawah sebuah pohon beringin yang rindang yang berada di atas bukit Napo, Polewali Mandar. 

** * **
Demikian ceritaPanglima To Dilaling dari daerah Sulawesi Barat, Indonesia. Cerita di atas termasuk ke dalam kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu sifat suka lupa diri sendiri dan sifat sombong atau angkuh.

Pertama, sifat suka lupa diri. Sifat lupa diri yang dimaksud di sini adalah bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, semua makhluk pasti akan mati. Sifat ini tercermin pada sifat dan perilaku Raja Balanipa yang ingin berkuasa sepanjang masa. Ia merasa bahwa dirinya akan hidup selama-lamanya, sehingga tidak mau mewariskan tahtanya kepada putranya.
Kedua, sifat sombong atau angkuh yang tercermin pada perilaku Raja Lego. Dengan kekuasaan dan kesaktiannya, ia suka menindas rakyat yang lemah. Pelajaran yang dapat dipetik dari sifat dan perilaku Raja Lego ini adalah bahwa hendaknya kita tidak bersikap menyombongkan diri dengan kekuasaan dan kekuatan yang kita miliki, karena suatu saat kekuasaan dan kekuatan itu pasti akan binasa juga. Dikatakan alam tunjuk ajar Melayu:
kalau hidup melagakkan kuasa,

alamat hidup menanggung siksa
bila hidup melagakkan pangkat,
lambat laun ditimpa laknat
Sumber:
  • Isi cerita diadaptasi dari Muthalib, H. Abdul. 1999. Cerita  Rakyat dari Sulawesi Selatan/ Jakarta: Grasindo.
  •  Kantor Kominfo dan Kearsipan Polewali Mandar. "Sekilas tentang To Dilaling (www.polewalimandarkab.go.id/index.php?page=7 ,diakses pada tanggal 20 Juni 2008).
  •  Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.
  •   Effendy, Tenas. 1994/1995/. "Ejekan" Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau/. Pekanbaru, Bappeda Tingkat I Riau.
     
*Kredit foto : *Muthalib, H. Abdul. 1999. Cerita Rakyat di Sulawesi
Selatan. Jakarta: Grasindo.
------------------------------------------------------------------------

[1]  Pulau Salemo terletak di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Provinsi Sulawesi Selatan.

[2]  Gowa adalah nama sebuah kabupaten yang terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan.

[3] Negeri Napo bersama negeri Samsundu, Mosso dan Todang-Todang merupakan persekutuan ?Empat Negeri Besar", atau dalam bahasa Mandar disebut dengan istilah "Appe Banua Kaiyyang."

[4]  To Dilaling diambil dari bahasa Mandar yang terdiri dari dua kata, to dan dilaling. Kata to berarti orang, sedangkan dilaling berarti hijrah. Jadi, To Dilaling berarti orang yang hijrah dari Gowa (Sulawesi Selatan) ke Napo (Sulawesi Barat), atau orang yang diangkut bersama dengan perlengkapannya.
Read more

Laut Terbelah ( antahlah ) . . . .



Suatu kejadian alam yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan kisah
Mozes (Musa), the Ten Commandments dalam buku Exodus-Holy Bible.
Hanya,..... kira-kira mirip.
 
Ini adalah penomena alam yang paling mengagumkam di Korea Selatan yang
dinamai "Moses Miracle", dua kali setahun terjadi air surut, terbuka
suatu alur daratan sepanjang 2.8 kilometer dan lebar 40 meter yang
menghubungkan pulau Jindo dan Modo selama beberapa jam.
 

  

Suatu festival diadakan untuk mengingatkan kejadian alam dan dihadiri
orang-orang dari segala penjuru dunia ini. Bagaimanapun kejadian alam
ini belum begitu diketahui sampai tahun 1975, ketika Mr. Pierre Randi
duta besar Perancis untuk negara Korea berkunjung kemari dan
mempublikasikannya di surat kabar Perancis.

Sumber: kaskus.us

 
Read more

Sudah Jalan 400 km "Cinta Ditolak Pula"

 
BEIJING - Jika dewi cinta belum berpihak, usaha sekeras apapun belum tentu bisa membuat pujaan hati takluk. Itulah yang dialami seorang pria asal Chongqing, China.
Seperti ditulis Xinhua, Kamis (3/9/2009), pria itu rela berjalan lebih dari 400 kilometer menuju Chengdu di Provinsi Sichuan dengan harapan memenangkan hati mantan kekasihnya.
Konon, setelah putus dari perempuan yang menjadi kekasihnya selama empat tahun, pria itu mulai sadar tak dapat hidup tanpanya. Dia pun membuat pengumuman akan berjalan menuju kampus kekasihnya itu di Chengdu, guna mendapatkan kembali sang gadis.
Namun sayangnya perjalanan kaki selama 15 hari itu sia-sia. Sang gadis mengaku sudah menjalani kehidupannya yang baru.(Kowdong-kowdonk)
***
sumber : http://international.okezone.com/read/2009/09/03/214/254113/214/sudah-jalan-400-km-cinta-ditolak-pula

Read more

Asal Mula Nama Pamboang

Sulawesi Barat (Indonesia) 
Pamboang adalah nama kecamatan di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Indonesia. Konon, kecamatan yang identik dengan Mandar ini dulunya bernama kampung Pallayarang Tallu. Namun karena terjadi sebuah  peristiwa, sehingga namanya berubah menjadi Pamboang. Peristiwa apa sebenarnya yang terjadi, sehingga nama daerah itu berubah menjadi Pamboang? Peristiwa tersebut diceritakan dalam cerita rakyat /Asal Mula
Nama Pamboang/ berikut ini.

* * ***

Alkisah, di Kampung Benua, Majene, Sulawesi Barat, hiduplah tiga orang pemuda yang hendak memperluas lahan perladangan dan permukiman penduduk, serta membangun pelabuhan di pantai. Ketiga pemuda tersebut bergelar I Lauase, I Lauwella, dan I Labuqang. Gelar tersebut mereka sandang berdasarkan pada tugas mereka dalam mewujudkan keinginan tersebut.

Pemuda pertama bergelar I Lauase, karena dalam menjalankan tugasnya membuka hutan lebat menjadi lahan perladangan selalu menggunakan /wase/ (kapak). Pemuda kedua bergelar I Lauwella, karena bertugas untuk
membabat dan membersihkan /wella/ (rumput) laut di pantai yang akan dijadikan sebagai wilayah perdagangan. Pemuda ketiga bergelar I Labuqang, karena bertugas untuk meratakan tanah di pantai yang berlubang akibat ulah /buqang/ (kepiting).

Ketiga pemuda tersebut melaksanakan tugas di wilayah mereka masing-masing. I Lauase bekerja di daerah hutan untuk membuka lahan perladangan, sedangkan I Lauwella dan I Labuqang bekerja di daerah pantai. I Lauwella membersihkan rumput laut, sedangkan I Labuqang meratakan tanah yang berlubang di pantai. Ketiga pemuda tersebut bekerja dengan penuh semangat di wilayah kerja masing-masing.

Menjelang sore hari, ketiga pemuda itu kembali ke kampung untuk beristirahat. Sebelum tidur, mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing setelah melalui hari pertama.
 
" Hari ini saya sudah merobohkan puluhan pohon besar," cerita I Lauase.
" Kalian bagaimana"? tanya I Lauase kepada I Lauwella dan I Labuqang.
"Saya sudah banyak membersihkan rumput laut di pantai," jawab I Lauwella.
"Saya juga sudah meratakan puluhan lubang kepiting," sahut I Labuqang.
"Kalau begitu, saya perkirakan dalam waktu seminggu kita sudah dapat
menyelesaikan tugas kita masing-masing," kata I Lauase.
"Benar! Kita harus bekerja lebih keras lagi," sahut I Lauwella.
Ternyata benar perkiraan mereka, setelah seminggu bekerja keras, semua pekerjaan mereka telah selesai. Kemudian ketiga pemuda tersebut menjadi penguasa di wilayah yang mereka buka. I Lauase menanami ladangnya dengan berbagai jenis tanaman palawija, sedangkan I Lauwella dan I Labuqang yang wilayah kekuasaannya berada di daerah pantai bekerja sama membangun sebuah pelabuhan untuk dijadikan sebagai sarana perdagangan.
Semakin hari semakin banyak penduduk yang ikut berladang bersama dengan I Lauase. Demikian pula di pelabuhan, aktivitas perdagangan pun semakin ramai. Akhirnya, mereka bersepakat untuk menggabungkan ketiga wilayah mereka menjadi satu.

"Tapi, apa nama yang cocok untuk wilayah ini"? tanya I Labuqang.
Mendengar pertanyaan itu, I Lauase dan I Lauwella terdiam. Keduanya juga masih bingung untuk memberikan nama yang bagus untuk wilayah mereka. Setelah beberapa saat berpikir, I Lauase kemudian mengajukan usulan.
"Bagaimana kalau tempat ini kita namakan  Pallayarang Tallu"?
"Pallayarang Tallu/? Apa masksudnya"? tanya I Lauwella penasaran.
"Pallayarang /artinya tiang layar, sedangkan Tallu artinya tiga.
Jadi, Pallayarang Tallu berarti Tiga Tiang Layar," jelas I Lauase.
"Waaah, nama yang bagus. Saya setuju dengan usulan I Lauase. Kalau kamu
"bagaimana"? tanya I Labuqang kepada I Lauwella.
"Saya juga setuju dengan nama itu," jawab I Lauwella.
Akhirnya ketiga pemuda itu menemukan nama yang bagus untuk wilayah mereka. Selanjutnya, mereka selalu bekerja sama mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan wilayah mereka.
Pada suatu hari, sekitar 7.000 orang pengungsi yang dipimpin oleh Puatta Di Karena tiba di daerah Adolang yang berbatasan dengan daerah kekuasaan I Lauase. Ribuan pengungsi tersebut berasal dari Kerajaan Passokkorang yang hancur akibat diserang oleh pasukan musuh. Setelah beberapa lama berada di daerah itu, Puatta Di Karena ingin mengajak negeri Pallayarang Tallu untuk bergabung menjadi anggota Pitu Baqbana
Binanga/, yaitu persekutuan kerajaan-kerajaan di daerah Mandar.
Suatu hari, Puatta Di Karena didampingi oleh beberapa pengawalnya pergi ke Negeri Pallayarang Tallu untuk menemui I Lauase. Setiba di rumah Lauase, ia pun mengutarakan maksud kedatangannya.
"Anak Muda! Maksud kedatangan kami adalah ingin mengajak Anda untuk bergabung menjadi anggota Pitu Baqbana Binanga. Apakah Anda bersedia"? tanya Puatta Di Karena menawarkan.
"Maaf, Tuan! Saya tidak dapat memutuskan sendiri masalah ini. Saya harus bermusyawarah dengan kedua saudara saya, I Lauwella dan I Labuqang,? jawab I Lauase." Baiklah, kalau begitu! Saya akan menunggu keputusan dari kalian. Tapi, kapan kita bisa bertemu lagi"? tanya Puatta Di Karena. " Tuan boleh kembali ke mari besok pagi,? jawab I Lauase.
Setelah Puatta Di Karena mohon diri, I Lauase segera mengundang I Lauwella dan I Labuqang. Di rumah I Lauase, ketiga pemuda itu bermusyawarah. Dalam pertemuan itu mereka bersepakat untuk tidak bergabung menjadi anggota Pitu Baqbana Binanga.
Keesokan harinya, Puatta Di Karena pergi lagi ke rumah I Lauase. Kedatangannya disambut oleh ketiga pemuda tersebut.
"Bagaimana keputusan kalian?? tanya Puatta Di Karena penasaran.
"Maafkan kami, Tuan! Kami telah sepakat belum bersedia menerima tawaran,
Tuan!" jawab I Lauase.
"Kenapa"? tanya Puatta Di Karena.
"Negeri kami belum makmur. Rakyat kami masih banyak yang hidup susah,?
tambah I Lauwella.
"Bagaimana jika aku membayar kepada kalian" ? tanya
Puatta Di Karena menawarkan.
Mendengar tawaran itu, ketiga orang pemuda tersebut terdiam. Mereka berpikir, menerima atau menolak tawaran itu. Setelah berunding sejenak, akhirnya mereka memutuskan untuk menerima tawaran itu.
"Baiklah! Kami menerima tawaran Tuan! Kapan /tambo/ itu akan Tuan
berikan kepada kami"? tanya I Lauase.
"Kami akan mengantarkan  itu minggu depan," janji Puatta Di Karena.
Akhirnya, Pallayarang Tallu  pun bergabung menjadi anggota Pitu Baqbana Binanga. Ketiga pemuda itu sangat senang, karena mereka akan mendapat  untuk digunakan membangun wilayah dan membantu rakyat
mereka. Namun, setelah seminggu mereka bergabung,  Puatta Di Karena tidak memberikan yang telah dijanjikannya.
Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, Puatta Di Karena tidak kunjung datang mengantarkan Akhirnya,  pun menjadi pembicaraan masyarakat Pallayarang Tallu. Oleh karena setiap hari diucapkan, lama-kelamaan kata berubah menjadi Tamboang, lalu menjadi Pamboang. Berdasarkan kata inilah masyarakat setempat mengganti nama /Pallayarang Tallu/ menjadi Pamboang. Hingga kini, kata Pamboang dipakai untuk menyebut nama sebuah kecamatan di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

* * *
Demikian cerita Asal Mula Nama Pamboang dari Sulawesi Barat, Indonesia. Cerita di atas termasuk ke dalam cerita legenda yang mengandung pesan-pesan moral. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat
dipetik dari cerita di atas, yaitu keutamaan sifat suka bermusyawarah untuk mufakat dan tekun dalam bekerja.
Pertama, sifat suka bermusyawarah tercermin pada perilaku ketiga pemuda dalam cerita di atas. Setiap menghadapi suatu pekerjaan atau masalah, mereka senantiasa bermusyawarah untuk mufakat. Dalam kehidupan orang Melayu, musyawarah merupakan salah satu sandaran dalam adat Melayu. Oleh karena itu, mereka sangat menghormati, menjunjung tinggi, dan memuliakan musyawarah dan mufakat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ungkapan Melayu dikatakan:

tegak adat karena mufakat,
tegak tuah karena musyawarah
Kedua, rajin dan tekun bekerja. Sifat ini juga tercermin pada keuletanketiga pemuda tersebut. Dari cerita di atas dapat dipetik sebuahpelajaran bahwa untuk mewujudkan sebuah keinginan, kita harus tekundalam bekerja. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
wahai ananda cahaya mata,
rajin dan tekun dalam bekerja
penat dan letih usah dikira
supaya kelak hidupmu sejahtera
(sumber asli : http://ceritarakyatnusantara)



Sumber :

    * Isi cerita diadaptasi dari Anonim, "Cerita Rakyat Mandar Kabupaten
      Mamuju"  (http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=16619&jenis=Etnik,
      diakses tanggal 15 Mei 2006).
    * Anonim. "Pamboang: Majene,"   (http://id.wikipedia.org/wiki/Pamboang,_Majene, diakses tanggal 15
      Mei 2006).
    * Anonim. ?Suku Mandar," (http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Mandar,
      diakses tanggal 15 Mei 2008).
    * Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya    Melayu bekerja sama dengan AdiCita  Karya Nusa.

Read more

Asal Mula Tari Pattudu

Sulawesi Barat (Indonesia)

Sulawesi Barat atau disingkat Sul-Bar termasuk provinsi yang masih tergolong baru di Pulau Sulawesi, Indonesia. Provinsi yang dibentuk pada tanggal 5 Oktober ini sebagian besar dihuni oleh suku Mandar (49,15%) dibanding dengan suku-bangsa lainnya seperti Toraja (13,95%), Bugis (10,79%), Jawa (5,38%), Makassar (1,59%) dan lainnya (19,15%). Maka tidak heran jika adat dan tradisi suku Mandar lebih berkembang di daerah ini. Salah satu tradisi orang Mandar yang sangat terkenal adalah tradisi penjemputan tamu-tamu kehormatan baik dari dalam maupun luar negeri.
Penyambutan tamu kehormatan tersebut sedikit berbeda dari daerah lainnya. Para tamu kehormatan tidak hanya disambut dengan /pagar ayu/ atau pengalungan bunga, tetapi juga dengan Tari Patuddu. Zaman sekarang, tarian ini biasanya dimainkan oleh anak-anak Sekolah Dasar (SD) dengan menggunakan alat tombak dan perisai yang kemudian diiringi irama gendang. Oleh karena itu, Tari Patuddu yang memperagakan tombak dan perisai ini disebut juga tari perang. Disebut demikian karena sejarah tarian ini memang untuk menyambut balatentara Kerajaan Balanipa yang baru saja pulang dari berperang.
Menurut sebagian masyarakat setempat, Tari Patuddu ini lahir karena sering terjadi huru-hara dan peperangan antara balatentara Kerajaan Balanipa dan Kerajaan Passokorang pada masa lalu. Setiap kali pasukan perang pulang, warga kampung melakukan penyambutan dengan tarian Patuddu. Tarian ini menyiratkan makna, ?Telah datang para pejuang dan pahlawan negeri,? sehingga tari Patuddu cocok dipentaskan untuk menyambut para tamu istimewa hingga saat ini.
Namun, ada versi lain yang diceritakan dalam sebuah cerita rakyat terkait dengan asal-mula tari Patuddu. Konon, pada zaman dahulu kala, di sebuah daerah pegunungan di Sulawesi Selatan (kini Sulawesi Barat), hidup seorang Anak Raja bersama hambanya. Suatu waktu, Anak Raja itu ditimpa sebuah musibah. Bunga-bunga dan buah-buahan di tamannya hilang entah ke mana dan tidak tahu siapa yang mengambilnya. Ia pun berniat untuk mencari tahu siapa pencurinya. Dapatkah Anak Raja itu mengetahui dan menangkap si pencuri? Siapa sebenarnya yang telah mencuri buah dan bunga-bunganya tersebut? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisah selengkapnya dalam cerita Asal-Mula Tari Patuddu berikut ini! 
** * ** *
Alkisah, pada zaman dahulu, di daerah Mandar Sulawesi Barat, hiduplah seorang Anak Raja di sebuah pegunungan. Di sana ia tinggal di sebuah istana megah yang dikelilingi oleh taman bunga dan buah yang sangat indah. Di dalam taman itu terdapat sebuah kolam permandian yang bersih dan sangat jernih airnya. Pada suatu hari, saat gerimis tampak pelangi di atas rumah Anak Raja. Kemudian tercium aroma harum semerbak. Si Anak Raja mencari-cari asal bau itu. Ia memasuki setiap ruangan di dalam rumahnya. Namun, asal aroma harum semerbak itu tidak ditemukannya. Oleh karena penasaran dengan aroma itu, ia terus mencari asalnya sampai ke halaman rumah. Sesampai di taman, aroma yan dicari itu tak juga ia temukan. Justru, ia sangat terkejut dan kesal, karena buah dan bunga-bunganya banyak yang hilang. ?Siapa pun pencurinya, aku akan menangkap dan menghukumnya!? setengah berseru Anak Raja itu berkata dengan geram. Ia kemudian berniat untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang telah berani mencuri bunga-bunga dan buahnya tersebut.
Suatu sore, si Anak Raja sengaja bersembunyi untuk mengintai pencuri bunga dan buah di tamannya. Tak lama, muncullah pelangi warna-warni yang disusul tujuh ekor merpati terbang berputar-putar dengan indahnya. Anak Raja terus mengamati tujuh ekor merpati itu. Tanpa diduganya, tiba-tiba tujuh ekor merpati itu menjelma menjadi tujuh bidadari cantik. Rupanya mereka hendak mandi-mandi di kolam Anak Raja. Sebelum masuk ke dalam kolam, mereka bermain-main sambil memetik bunga dan buah sesuka hatinya.
 
Anak Raja terpesona melihat kencantikan ketujuh bidadari itu. ?Ya Tuhan! Mimpikah aku ini? Cantik sekali gadis-gadis itu,? gumam Anak Raja dengan kagum. Kemudian timbul keinginannya untuk memperistri salah seorang bidadari itu. Namun, ia masih bingung bagaimana cara mendapatkannya. ?Mmm...aku tahu caranya. Aku akan mengambil salah satu selendang mereka yang tergeletak di pinggir kolam itu,? pikir Anak Raja sambil mengangguk-angguk.
Sambil menunggu waktu yang tepat, ia terus mengamati ketujuh bidadari itu. Mereka sedang asyik bermain sambil memetik bunga dan buah sesuka hatinya. Mereka terlihat bersendau-gurau dengan riang. Saat itulah, si Anak Raja memanfaatkan kesempatan. Dengan hati-hati, ia berjalan mengendap-endap dan mengambil selendang miliki salah seorang dari ketujuh bidadari itu, lalu disembunyikannya. Setelah itu, ia kembali mengamati para bidadari yang masih mandi di kolam. 
 
Setelah puas mandi dan bermain-main, ketujuh bidadari itu mengenakan selendangnya kembali. Mereka harus kembali ke Kahyangan sebelum pelangi menghilang. Pelangi adalah satu-satunya jalan kembali ke Kahyangan. Namun Bidadari Bungsu tidak menemukan selendangnya. Ia pun tampak kebingungan mencari selendangnya. Keenam bidadari lainnya turut membantu mencari selendang adiknya. Sayangnya, selendang itu tetap tidak ditemukan. Padahal pelangi akan segera menghilang.
Akhirnya keenam bidadari itu meninggalkan si Bungsu seorang diri. Bidadari Bungsu pun menangis sedih. ?Ya Dewa Agung, siapa pun yang menolongku, bila laki-laki akan kujadikan suamiku dan bila perempuan akan kujadikan saudara!? seru Bidadari Bungsu. Tak lama berseru demikian, terdengar suara halilintar menggelegar. Pertanda sumpah itu didengar oleh para Dewa.
Melihat Bidadari Bungsu tinggal sendirian, Anak Raja pun keluar dari persembunyiannya, lalu menghampirinya.
"Hai, gadis cantik! Kamu siapa? Mengapa kamu menangis?" tanya Anak Raja pura-pura tidak tahu.
"Aku Kencana, Tuan! Aku tidak bisa pulang ke Kahyangan, karena selendangku hilang, "jawab Bidadari Bungsu.
"Kalau begitu, tinggallah bersamaku. Aku belum berkeluarga," kata Anak Raja seraya bertanya, "Maukah kamu menjadi istriku?"
Sebenarnya Kencana sangat ingin kembali ke Kahyangan, namun selendangnya tidak ia temukan, dan pelangi pun telah hilang. Sesuai dengan janjinya, ia pun bersedia menikah dengan Anak Raja yang telah menolongnya itu. Akhirnya, Kencana tinggal dan hidup bahagia bersama dengan Anak Raja.
Kencana dan Anak Raja dikaruniai seorang anak laki-laki. Maka semakin lengkaplah kebahagiaan mereka. Mereka mengasuh anak itu dengan penuh perhatian dan kasih-sayang. Selain mengasuh dan mendidik anak, Kencana juga sangat rajin membersihkan rumah.
Pada suatu hari, Kencana membersihkan kamar di rumah suaminya. Tanpa sengaja ia menemukan selendang miliknya yang dulu hilang. Ia sangat terkejut, karena ia tidak pernah menduga jika yang mencuri selendangnya itu adalah suaminya sendiri. Ia merasa kecewa dengan perbuatan suaminya itu. Karena sudah menemukan selendangnya, Kencana pun berniat untuk pulang ke Kahyangan.Saat suaminya pulang, Kencana menyerahkan anaknya dan berkata, ?Suamiku, aku sudah menemukan selendangku. Aku harus kembali ke Kahyangan menemui keluargaku. Bila kalian merindukanku, pergilah melihat pelangi!? 
Saat ada pelangi, Kencana pun terbang ke angkasa dengan mengipas-ngipaskan selendangnya menyusuri pelangi itu. Maka tinggallah Anak Raja bersama anaknya di bumi. Setiap ada pelangi muncul, mereka pun memandang pelangi itu untuk melepaskan kerinduan mereka kepada Kencana. Kemudian oleh mayarakat setempat, pendukung cerita ini, gerakan Kencana mengipas-ngipaskan selendangnya itu diabadikan ke dalam gerakan-gerakan Tari Patuddu, salah satu tarian dari daerah Mandar, Sulawesi Barat.
* * * 
Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Salah satu pesan moral yang terkandung di dalamnya adalah anjuran meninggalkan sifat suka mengambil barang milik orang lain. Sifat yang tercermin pada perilaku ketujuh bidadari dan Anak Raja tersebut sebaiknya dihindari. Ketujuh bidadari telah mengambil bunga-bunga dan buah-buahan milik si Anak Raja tanpa sepengetahuannya. Demikian pula si Anak Raja yang telah mengambil selendang salah seorang bidadari tanpa sepengetahuan mereka, sehingga salah seorang bidadari tidak bisa kembali ke Kahyangan. Sebaliknya, Anak Raja harus ditinggal pergi oleh istrinya, Bidadari Bungsu, ketika si Bungsu menemukan selendangnya yang telah dicuri oleh suaminya itu. Itulah akibat dari perbuatan yang tidak dianjurkan ini. 
Mengambil hak milik orang lain adalah termasuk sifat tercela. Bahkan dalam ajaran sebuah agama disebutkan, mengambil dan memakan harta orang lain dengan cara semena-mena, sama artinya dengan memakan harta yang haram. Ada banyak cara yang dilakukan oleh seseorang untuk mengambil dan memakan harta orang lain secara tidak halal, di antaranya mencuri, merampas, menipu, kemenangan judi, uang suap, jual beli barang yang terlarang dan riba. Kecuali yang dihalalkan adalah pengambilan dan pertukaran harta dengan jalan perniagaan dan jual-beli yang dilakukan suka sama suka antara si penjual dan si pembeli, tanpa ada penipuan di dalamnya.
Setiap agama menganjurkan kepada umatnya agar senantiasa menjunjung tinggi, mengakui dan melindungi hak milik orang lain, asal harta tersebut diperoleh dengan cara yang halal. Oleh karena itu, hendaknya jangan memakan dan mengambil harta orang lain dengan jalan yang tidak halal. 
(sumber asli http://ceritarakyatnusantara.com )
  • Isi cerita diringkas dari Wulandari. Asal-Mula Tari Patuddu. 2005. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.
  • Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa
  • Anonim. "Sambut Tamu dengan Tari Patuddu", (http://www.sulbar.com/open.php?page=Tarian, diakses tanggal 16 November 2007). * Anonim. ?Sulawesi Barat?, (http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Barat, diakses tanggal 16 November 2007).
  • Anonim. "Perlindungan Islam terhadap Jiwa dan Harta", (http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=177, diakses tanggal 20 November 2007).
Read more

Komentar FB

ya Like Tappami Tori

Semua tentang AlterBridge

 

Mandar Photo Gallery Design by Insight © 2009