ANALISIS PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TRANSMIGRASI
(Studi kasus: Kawasan Rante Buluang Mamuju)


Pengembangan permukiman transmigrasi di Kabupaten Mamuju telah lama dilakukan, namun pada tahapan implementasi terkandang menemui kesulitan dilapangan dan pada akhirnya program tersebut tidak berlanjut. Penelitian ini mengetengahkan mengenai kajian dalam pengembangan kawasan permukiman transmigrasi dengan tujuan menemukenali faktor-faktor yang terkait dengan pengembangan permukiman transmigrasi di kawasan Rante Buluang dan membuat konsepsi pengembangan permukiman transmigrasi sehingga dapat layak huni, layak usaha, dan layak berkembang, sehingga kawasan permukiman transmigrasi dapat menyatu baik dari aspek fisik maupun sosial budaya antara masyarakat pendatang dan masyarakat setempat.

A. Pendahuluan.
Program transmigrasi merupakan salah satu upaya pemerinyah dalam rangka menunjang pembangunan nasionakl yaitu untuk mempercepat pembangunan daerah-daerah yang masih terbelakang perkembangannya, juga melalui program transmigrasi ini diharapkan lahan-lahan kritis yang ada dapat ditingkatkan melalui suatu pembinaan dan pengelolaan sumber daya alam yang potensial untuk dikembangkan dan dipadukan dengan ketersediaan sumber daya manusia yang dibekali ketrampilan untuk mengelolanya.
Dalam kaitannya dengan upaya pemerataan hasil pembangunan yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi segenap lapisan masyarakat, program Transmigrasi merupakan karya nyata yang diharapkan untuk mewujudkan peningkatan kesejahteraan, baik bagi kesejahteraan kehidupan para Transmigran, maupun bagi masyarakat yang berada disekitar lokasi permukiman Transmigrasi.
Program Transmigrasi juga telah mengakibatkan berbaurnya dua atau lebih kondisi sosial budaya yang berbeda, sehingga meningkatkan rasa persaudaraan dan persatuan. Kondisi demikian akan memperkuat ketahanan nasional dan akan memperlancar pembangunan nasional.
Melalui studi ini diharapkan dapat mendorong keberhasilan pengembangan wilayah maupun peningkatan pendapatan serta mengoptimalkan potensi daerah. Sedangkan untuk menunjang orientasi pemasaran dan aksesibilitas (tingkat kemudahan) dengan daerah lain diwujudkan dalam program pembangunan jalan.
Program pengembangan permukiman transmigrasi pada dasarnya adalah untuk mendukung kriteria layak huni, layak usaha, dan layak berkembang. Sebagai perencanaan permukiman, hasil ini pada tahap selanjutnya akan merupakan acuan dan dasar pelaksanaan didalam pekerjaan–pekerjaan fisik, yaitu pekerjaan pembukaan lahan, penyiapan bangunan dan infra struktur permukiman lainnya, maupun pekerjaan yang bersifat kelembagaan sosial ekonomi, pada saat permukiman Transmigrasi telah difungsikan.

B. Maksud Dan Tujuan
Studi pengembangan Permukiman Transmigrasi ini dimaksudkan untuk menghasilkan kajian pelaksanaan fisik, sebagai berikut;
Menemukan kesesuaian lahan untuk pengembangan permukiman transmigrasi, baik untuk perumahan maupun untuk kegiatan budidaya.
Menentukan pola jaringan jalan penghubung, jalan poros, jalan desa dan fasilitas umum.
Tujuan studi pengembangan permukiman transmigrasi kawasan Rante Buluang Kabupaten Mamuju adalah;
Menemukenali faktor-faktor yang terkait dengan pengembangan permukiman transmigrasi di kawasan Rante Buluang.
Membuat konsepsi pengembangan permukiman transmigrasi sehingga dapat layak huni, layak usaha, dan layak berkembang.


Kajian Pengembangan
Lokasi studi pengembangan permukiman transmigarasi di Kampung Rante Buluan di Kelurahan Sinyonyoi Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat.
Letak lokasi studi secara geografis terletak antara 1190 02–1190 050 Bujur Timur dan 020 38 – 020 420 Lintang Selatan. Secara administrasi lokasi studi Rante Buluang berbatasan dengan :
Utara : Berbatasan dengan Salu Petakeang
Selatan : Berbatasan Bukit Topokimba
Barat : Berbatasan Sungai Gentungan
Barat : Berbatasan dengan Uhai Dango
Pencapaian lokasi studi dari Ibukota Provinsi Sulawesi Barat dapat ditempuh melalui jalan darat dengan rute perjalanan Mamuju–Kalukku–Kelurahan Sinyonyoi–Desa Bebanga- Dusun Gentungan-dilanjutkan ke kampung Kanang-Kanang-ke Lokasi Studi dengan jarak tempuh sekitar ± 36 Km.

Hidroklimatologi Kawasan
a. Temperatur
Penyinaran matahari sebagian besar mencapai permukaan tanah. Penyinaran yang mencapai permukaan tanah dipantulkan ke udara dan meningkatkan suhu udara sedangkan sisanya diabsorbsi ke dalam tanah dan meningkatkan suhu tanah. Jika temperatur udara dan tanah cukup tinggi, proses evaporasi berjalan lebih cepat dan sebaliknya. Kemampuan udara untuk menyerap air berbanding lurus dengan kenaikan suhunya, maka suhu udara memiliki efek ganda terhadap besarnya evaporasi dengan mempengaruhi kemampuan udara menyerap uap air dan pempengaruhi suhu tanah yang mempercepat penguapan, sedangkan suhu tanah dan air hanya memiliki efek tunggal.
Besarnya temperatur rerata bulanan pada daerah studi berdasarkan data dari stasiun klimatologi pada daerah tersebut dengan nilai rerata tahunannya sebesar 28.69 OC.

b. Penyinaran Matahari
Evaporasi merupakan konversi air ke dalam uap air. Proses ini berjalan terus hamper tanpa berhenti di siang hari. Perubahan dari keadaan cair menjadi gas ini memerlukan energi berupa panas untuk evaporasi. Proses perubahan ini akan sangat aktif jika ada penyinaran Matahari langsung. Besarnya penyinaran matahari rata-rata bulanan sebesar 6.41 jam/hari.

c. Kelembaban Relatif
Jika kelembaban relatif (relative humidity) udara naik, maka kemampuan udara menyerap uap air akan berkurang sehingga laju evaporasinya menurun. Penggantian lapisan udara pada batas tanah dan udara yang sama kelembaban relatifnya tidak memberi pangaruh yang signifikan dalam memperbesar evaporasinya. Besarnya kelembaban rerata bulanan pada lokasi sesuai dengan stasiun klimatologi yang ada senilai rerata tahunannya sebesar 93.08 %.

d. Kecepatan Angin
Jika air menguap ke atmosfir maka lapisan batas antara permukaan tanah dan udara menjadi jenuh oleh uap air sehingga proses penguapan berhenti. Agar proses tersebut dapat berjalan terus, lapisan jenuh harus diganti dengan udara kering. Proses penggantian itu dapat berlangsung jika ada angin yang memindahkan komponen uap jenuh, sehingga peranan kecepatan angin dalam proses penguapan cukup berpengaruh. Besarnya kecepatan angin rerata bulanan pada lokasi studi dengan nilai rata-rata tahunannya sebesar 48.75 km/jam.

e. Neraca Air
Metode yang digunakan dalam menghitung Evapotranspirasi adalah metode Penman modifikasi. Data klimatologi yang digunakan untuk perhitungan evapotranspirasi diambil dari stasiun Rangaranga, Mamuju. Persamaan-persamaan yang digunakan dalam metode Penman modifikasi (Sumber : Pedoman pengembangan Sumber Air, PSA-010) adalah sebagai berikut;

Eto= c . ET*
ET* = w (0,75 Rs - Rn1) + (1 - w) f(u) (ea- ed)

Dimana :
w = Faktor yang berhubungan dengan temperatur (t) dan elevasi daerah. Untuk daerah Indonesia dengan elevasi antara 0 - 500 m.
Rs = Radiasi gelombang pendek dalam satuan evaporasi (mm/hari)
= (0,25 + 0,54 n/N) Ra
Ra = Radiasi gelombang pendek yang memenuhi batas luar atmosfir (angka angot) yang dipengaruhi oleh letak lintang daerah.
Rn1 = Radiasi bersih gelombang panjang (mm/hari)
= f(t) . f(ed) . f(n/N)
f(t) = Fungsi suhu
= s . Ta4
= Konstanta
Ta = Suhu (0K).
f(ed) = Fungsi tekanan uap
= 0,34 - 0,44 . Ö(ed)
f(n/N) = Fungsi kecerahan
= 0,1 + 0,9 n/N
n = Jumlah jam
N = Lama Sinaran (jam).
f(u) = Kecepatan angin (m/dt)
= 0,27 (1 + 0,864 u)
u = Kecepatan angin (m/dt)
(ea-ed)= = Perbedaan tekanan uap
ed = ea . Rh
Rh = Kelembaban udara relatif (%)
ea = Tekanan uap jenuh (mbar)
ed = Tekanan uap (mbar)
c = Angka koreksi Penman.

f. Sumber Daya Air
· Air Permukaan
Dilokasi studi terdapat sungai yang mengalir sepanjang tahun yaitu Salu Gentungan serta anak-anak sungainya. Untuk mengetahui potensi air sungai dilokasi studi, telah dilakukan pengukuran aliran (debit) terhadap sungai-sungai yang mungkin dapat dimanfaatkan sebagai sumber air bersih maupun sumber air pertanian.
· Air Hujan
Lokasi studi dengan curah hujan tahunan rata-rata sebesar > 2000 mm/tahun. Termasuk daerah yang mempunyai curah hujan, dan juga dengan tidak terdapatnya bulan kering (CH <>


Keterangan :
TAH = Tampungan Air Hujan (Liter)
A = Luas Atap (36 m2)
CH = Jumlah Curah Hujan
Kp = Koefisien Penampungan (0.8)

Dengan menggunakan rumus diatas curah hujan rata-rata bulanan 260 mm/bulan, maka vol air yang dapat ditampung dalam satu bulan adalah 7488 l / bulan, setara dengan 249,6 l /hari. Dari perhitungan tersebut, maka air atap dapat memenuhi kebutuhan air warga transmigran. Dengan melihat rata-rata hari hujan/bulan adalah 8,8 hari, sehingga setiap KK memerlukan bak penampungan.

Sumber Daya Hutan dan Tata Guna Lahan
Metode Penelitian
Secara umum penelitian sumber daya hutan dan tata guna lahan dilokasi studi Rante Buluang dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan studi ditinjau dari segi kehutanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi tegakan, kelas hutan, status hutan, penggunaan lahan serta penelitian jenis flora dan fauna di lokasi studi Rante Buluang.
Untuk mencapai tujuan, maka penelitian ini dilakukan sebagai berikut:
Untuk mengetahui potensi tegakan hutan dilakukan dengan cara inventarisasi tegakan dengan intensitas 1% dari luas areal yang berhutan di lokasi studi Rante Buluang. Inventarisasi tegakan dilaksanakan untuk mengenal dan mencatat nama dari semua jenis pohon (nama daerah), mengukur keliling pohon, menaksir dan mencatat tinggi pohon sampai batas bebas cabang. Pengenalan jenis pohon dilakukan dengan bantuan tenaga pengenal pohon setempat. Selanjutnya volume dihitung dengan menggunakan rumus :


Dimana :
V= Volume Pohon (m3)
d= Diameter Pohon (m)
t = Tinggi Pohon Bebas Cabang (m)
= 3.14

Garis tengah dihitung dari hasil pengukuran keliling pohon, yang diukur pada ketinggian 130 cm dari atas permukaan tanah atau 10 cm diatas banjir untuk semua jenis pohon yang tidak rusak. Klasifikasi diameter yang dibuat adalah 7 – 30 cm, 31 – 40 cm, 41 – 60cm dan > 60 cm.
Situasi penggunaan lahan diteliti dengan melakukan pengamatan di sepanjang topografi, kategori penggunaan lahan yang ada pada setiap jalur pengamatan dicatat dan dipetakan mengenai bentuk penggunaan lahan dan jenis tanamannya.
Kelas hutan diketahui berdasarkan jumlah pohon ekuivalen/Ha. Perhitungan jumlah pohon diekuivalen dilakukan dengan menggunakan rumus :

Keterangan :
JPE= Jumlah pohon ekuivalen
A = Jumlah pohon / ha yang berdiameter 7 - 30 cm.
B = Jumlah pohon / ha yang berdiameter 31- 60 cm.
C = Jumlah pohon / ha yang berdiameter 61- 90 cm.
D = Jumlah pohon / ha yang berdiameter 91- 120 cm.

Tata guna Hutan
Tata guna hutan kesepakatan dan status hutan diketahui dengan mengacu kepada peta Monitoring Batas Kawasan Hutan Kabupaten Mamuju, Departemen Kehutanan Balai Inventarisasi dan Pemetaan Hutan Wilayah VII Provinsi Sulawesi Barat setelah dikonfirmasikan dengan dinas kehutanan dan kanwil kehutanan Propinsi Sulawesi Barat. Lokasi studi Rante Buluang berstatus Hutan Produksi yang dapat dikonversi.

Sumber Daya Lahan
g. Kemiringan Lahan
Untuk menentukan batas kelompok kemiringan lahan dilakukan dengan cara interpolasi luas kemiringan yang dominan, dari hasil pengamatan dilapangan, lokasi survey (Rante Buluang) sebagian besar mempunyai kemiringan lahan yang bergelombang sampai berbukit, yaitu dengan kelas kemiringan lahan (15- 25 %) Sedangkan luas lahan yang disurvey meliput luas 1.489.21Ha. Dari pengamatan dilapangan kelas kemiringan lahan diareal survey adalah sebagai berikut :

Tabel 1.
Kemiringan Lereng Lokasi Studi



Luas
(Ha) (%)
1 Datar 0 - 8 187.32 12.58
2 Agak 8 - 15 135.61 9
3 Bergelombang 15 - 25 551.12 37
4 Bergunung 25 - 45 321.89 22
6 Curam > 45 293.27 20
Jumlah 1.489,21 100.00
Sumber : Hasil Perhitungan, 2007

h. Tanah dan Klasifikasi Lahan
Tanah
1. Geomorfologi
Berdasarkan hasil deskripsi profil tanah menunjukkan bahwa tanah di daerah studi berkembang dari bahan induk Tuf masam, batuan pasir, sedimen kwarsa dan merupakan bahan angkutan dari bahan induk residu dimana pelapukan telah berlangsung lama dan intensif.

2. Klasifikasi Lahan.
Kalsifikasi Lahan didasarkan dengan berpedoman kepada “Terminologi dalam Term of Reference Pusat Penelitian Tanah (PPt,1983)” yang padanannya menurut “Sistem Soil Key to Taxonomy (Soil Survey Staff,1992)” dan Satuan Peta Tanah Dunia (FAO/UNISCO, 1985).
Berdasarkan hasil pengamatan, pada daerah studi yang ditunjang data bor, deskripsi profil dan analisa laboratorium, macam tanah yang dijumpai pada daerah studi Rante Buluang disajikan pada tabel 2.

Tabel 2.
Klasifikasi Tanah Pada Areal Survey Beserat Padanannya

PPT (1993) SOIL S.STAFF
(1990) FAO .
(1985) USDA Soil
(1975) Luas (Ha)
PodsolikCoklat Podsolik Acrisol Ultisol 967,98
Latosol Kambisol Cambisol Inceptisol 521,22
Sumber : Hasil perhitungan, Tahun 2007

i. Deskripsi Tanah
Podsolik Merah Kuning
Secara umum tanah ini terbentuk pada hutan berdaun lebar atau hutan campuran dari yang berdaun lebar dan berdaun jarum (conifer). Tanah berkembang dari bahan induk tuf masam, batuan pasir dan sediment kwarsa. Profil mempunyai warna Merah atau Kuning disebabkan oleh kandungan yang tinggi dari liat oksida besi. Illuviasi liat di horizon B2 terutama terdiri dari liat tipe 1 : 1 seperti kaolinit dengan jumlah seskuioksida yang bervariasi. Meskipun pelapukan agak lebih lanjut, tanah ini masih mempunyai kandungan mineral-mineral yang nudah lapuk (mika, felspar) dalam fraksi kasar. Kejenuhan basah rendah (<20>
Latosol
Tanah-tanah ini berkembang pada hutan hujan tropic baik dari bahan-bahan angkutan maupun dari bahan induk residu dimana pelapukan berlangsung lama dan intensif. Kecuali kwarsa, semua mineral-mineral primer menghilang suatu profil yang terutama terdiri dari liat atau campuran pasir kwarsa dan liat. Solum tebal (1.5- 10 meter) berwarna merah hingga kuning. Kandungan liat pada seluruh bagian profil sangat seragam, sehingga tidak terdapat horizon B2 yang jelas. Kejenuhan basa dan kapasitas tukar kation pada tanah ini umumnya rendah, tanah agak masam (pH 5,6-6,0).

d. Kesuburan Tanah
1. Kesuburan Tanah
Kesuburan tanah dinilai dari kemampuan dalam menyediakan unsur hara yang diperlukan bagai tanaman, dan juga dari kemungkinan adanya unsur-unsur yang menghambat pertumbuhan tanaman. Faktor kesuburan tanah sangat menentukan keberhasilan budidaya pertanian.
Untuk memperoleh gambaran mengenai kesuburan tanah di daerah studi, dilakukan pengambilan contoh tanah komposit pada kedalaman 0 - 30 cm dam 30 - 60 cm, dan selajutnya dianalisa di laboratorium. Jenis analisa yang dilakukan meliputi kandungan C, C/N Ratio, kemasaman tanah (pH tanah), kadar P2O5 (Potensial tersedia), kation-kation basa (Ca, Mg, Na dan K), K-total, Kapasitas Tukar Kation dan Kejenuhan Basa.
C- Organik, N -Total dan C/N ratio
Kandungan C-organik pada daerah studi mempunyai kriteria rendah sampai sangat rendah, dengan nilai berkisar 1,20% (kedalaman 0-30 cm), dan status sangat rendah (1,15%) pada semua SUL 9 dan 10. Kadar nitrogen total dalam tanah (kedalaman 0-30 cm) berkisar rendah sampai sangat rendah, kadar nitrogen sangat rendah pada SUL 10 (0,09 %) dan rendah pada SUL 1-9 (0,13%).
Kapasitas Tukar Kation
Pada daerah studi nilai KTK rendah-sedang, dengan nilai KTK berkisar 7,8 - 23,10 me/100 g. Kapasitas Tukar Kation sangat berpenagruh terhadap kemampuan tanah dalam menyerap dan melepaskan kembali unsur-unsur hara terutama kation-kation, sehingga tersedia bagi tanaman dan juga meningkatkan efisiensi pemupukan.
Kejenuhan Basa
Dari hasil analisa laboratorium menunjukkan bahwa kandungan unsur-unsur kation basa pada daerah studi pada umumnya rendah. Untuk kalsium mempunyai kriteria rendah dengan nilai berkisar 3,65-5,56 me/100 g. kandungan kalsium rendah pada semua SUL (0,11-0,50 me/100 g). Kandungan magnesium pada umumnya tinggi dengan nilai berkisar 2,57-3,52 me/100 g. Kandungan natrium menunjukkan nilai rendah terdapat pada semua SUL (0,21-0,28 me/100 gram.. Kejenuhan basa pada tanah-tanah didaerah studi adalah rendah.

Reaksi Tanah
Derajat kemasaman tanah atau pH tanah ditetapkan dengan pelarut H2O dan KCL 1 N. Dari hasil analisa laboratorium menunjukkan bahwa tanah-tanah pada daerah studi umumnya mempunyai tingkat kemasaman agak masam sampai masam dengan nilai (4,87-6,09). Nilai pH tersebut menunjukkan bahwa pada umumnya unsur hara di dalam tanah mudah diserap akar tanaman karena pada kisaran pH tersebut kebanyakan unsur hara mudah larut dalam air terutama unsur hara makro yakni unsur N, P dan K.

e. Sifat Fisik Tanah.
Sifat fisik tanah merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Sifat-sifat tersebut mempengaruhi pengolaan dan pengolahan tanah. Dalam analisa sifat fisik tanah pada penelitian kali ini ditekankan untuk tujuan perhitungan bahaya erosi. Dengan demikian pengambilan contoh tanah untuk “ring sample” dilakukan pada lahan-lahan dengan kemiringan > 8 % atau dengan potensi erosi yang diperkirakan besar.
Dari contoh tanah, beberapa sifat fisik tanah yang telah dianalisa meliputi : tekstur, bobot isi, ruang pori total, air tersedia, dan permeabilitas tanah.
Air Tersedia
Air tersedia merupakan air terlapis pada sebagian volume tanah yang dapat digunakan oleh tanaman. Berdasarkan kurva pF, air tersedia merupakan air yang dapat ditahan oleh tanaman antara kapasitas lapang dan titik layu permanen.
Air tersedia dalam tanah akan menentukan efisiensi penggunaan pupuk dan tindakan pengolahan tanah. Dengan demikian prediksi air tersedia bagi tanaman merupakan tindakan untuk menjamin pendapatan usaha tani yang optimal.
Permeabilitas Tanah
Permeabilitas tanah adalah kecepatan bergeraknya air dalam kolom tanah secara vertical dalam keadaan jenuh dan dinyatakan dalam cm/jam. Permeabilitas ini sangat ditentukan oleh tekstur, struktur, bahan organik dan pori-pori tanah. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisa laboratorium, tanah-tanah pada lapisan atas mempunyai permeabilitas agak lambat sampai cepat (1,20 mm/jam), permeabilitas cepat terdapat pada SUL 1,2,3 dan 15 (20,5 mm/jam).
Tekstur Tanah
Tekstur merupakan sifat fisik tanah yang hampir tidak dapat diubah dengan pemberian perlakuan pengolahan tanah. Oleh karena itu perbandingan fraksi pasir, debu dan liat yang seimbang akan membentuk reaksi tanah yang baik dan ketersediaan air yang akan mendukung pertumbuhan tanaman. Berdasarkan hasil analisa laboratorium, tekstur tanah pada daerah studi meliputi lempung, lempung berliat dan liat. Tekstur lempung terdapat pada SUL 6.
Potensi Erosi Tanah
Erosi tanah merupakan salah satu penyebab terjadinya kerusakan dan timbulnya lahan – lahan kritis. Keadaan lingkungan akan rusak dan banjir daerah hilir serta pendangkalan sungai akan meningkat.
Untuk memprediksi besarnya erosi yang akan terjadi pada suatu lahan, dapat diprediksi dengan menggunakan metode USLE (Universal Soil Loss Equation). sebagai berikut :


Dimana :

A= Banyaknya tanah yang diterosi
R= Indeks erosivitas hujan
K= Faktor erodibilitas tanah
L= Panjang Lereng (meter)
S= Kemiringan Lahan (%)
C= Faktor vegetasi penutup tanah dan pengolahan tanaman
P= Faktor Tindakan Konservasi

Untuk mencari nilai R digunakan persamaan Bols (1976) sebagai berikut :

Dimana :
EI30= Erosivitas hujan
R = Curah hujan rata-rata bulanan dalam (cm)
D = Jumlah rata-rata hujan bulanan
M = Jumlah hujan rata-rata .

Faktor pengelolaan tanaman (C) diperoleh dari data penggunaan lahan. Secara umum penggunaan lahan daerah studi (aktual) adalah hutan dan semak belukar, sehingga nilai C = 0,8 dan 0,31. Faktor konservasi dianggap tidak ada perlakuan (1, 00).
Setelah lahan digunakan atau diusahakan, maka terjadi perubahan penggunaan lahan yaitu pada awalnya hutan dan semak belukar berubah menjadi lahan pekarangan atau lahan usaha dengan jenis tanaman lahan kering dan tanaman tahunan yang dilakukan sejajar kontur. Sedangkan SUL 1, 9, 10, 11, 13 dan 15 diperuntukkan sebagai lahan konservasi atau lahan yang tidak dibuka.
Tabel 3.
Klasifikasi Indeks Bahaya Erosi

Nilai Indeks Erosi Harkat
<>
1,01 – 4,00
4,01 – 10,00
>10,01 Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi

Kesesuaian Lahan
Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan sebidang lahan untuk suatu tujuan penggunaan tertentu. Kesesuaian suatu wilayah dapat berbeda tergantung dari faktor pembatas kesesuaian lahan aktual dan kesesuaian lahan potensial.
Kesesuaian Lahan Aktual
Kesesuaian lahan aktual adalah kelas kesesuaian lahan berdasarkan keadaan/kondisi saat ini dengan kriteria standar dari pedoman pengelompokkan kesesuaian lahan. Dalam penilaian kelas kesesuaian lahan aktual belum diperhitungkan faktor input yang diberikan untuk mengatasi pembatas yang ada.
Kesesuaian Potensial
Kesesuaian lahan potensial adalah keals kesesuaian lahan berdasarkan keadaan setelah adanya perbaikan berupa input teknologi yang diberikan guna menghilangkan atau mengurangi faktor pembatasnya sehingga kelas kesesuaian lahan dapat ditingkatkan. Dalam pemberian atau penerapan input perbaikan, jelas input yang dilakukan terbagi kedalam 3 tingkat kemudahannya, baik ditinjau dari segi pelaksanaan maupun pendanaanya.

Konsep Pengembangan Permukiman.
Tahap analisis tata ruang merupakan salah satu tahapan menuju keproses akhir (rencana). Dalam analisa ini dimaksudkan untuk melihat dan menilai kondisi lokasi survey (wilayah studi) untuk dapat difungsikan sebagai peruntukkan lahan terbangun dengan tetap mempertimbangkan aspek fisik dan aspek non fisik.
Pertimbangan aspek fisik yang menyangkut kondisi dari daya dukung lahan baik potensi maupun kendala yang ada, sedangkan aspek non fisik menyangkut kebijaksanaan daerah maupun instansi vertikal yang terkait.
Berdasarkan hasil survey diwilayah studi, ditinjau dari jenis penggunaan lahan terdiri dari beberapa jenis pola penggunaan lahan yang didominasi oleh hutan produksi yang dapat dikonversi dengan kondisi topografi antara 8 - 40 % (datar hingga bergunung). Dari kondisi yang ada dalam peruntukkan sebagai lahan terbangun, hanya terdapat sebagian luas lahan yang dapat difungsikan sebagai wilayah pengembangan program transmigrasi khususnya lahan pekarangan, pusat desa dan fasilitas umum. Begitupun untuk lahan tidak terbangun dialokasikan sebagai pengembangan pertanian lahan kering (perkebunan) sesuai dengan arahan kebijakan pemerintah setempat.
Selain hal yang dikemukakan diperlukan pula adanya peruntukan lahan konservasi pada lokasi yang dinilai dapat menimbulkan khususnya pada wilayah yang memiliki kisaran lereng yang curam dan daerah yang terdapat pertemuan dua anak sungai. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekosistem yang pada gilirannya tertuju pada keselamatan jiwa manusia khususnya di wilayah studi dan wilayah Kabupaten Mamuju pada umumnya.
Pertimbangan yang menjadi dasar bagi pengembangan program khususnya menyangkut ketersediaan fasilitas umum yang dibutuhkan oleh penduduk yang berada dilokasi transmigrasi adalah daya jangkau. Dalam hal keberadaan fasilitas tersebut terdapat pula beberapa fasilitas umum/fasilitas sosial yang keberadaannya telah ada saat ini di Kelurahan Sinyonyoi. Keberadaan fasilitas tersebut perlu mendapat analisis untuk dinilai dalam hal kelayakan apakah ditetapkan atau dialih fungsikan sebagai peruntukan fasilitas yang dimaksud. Pertimbangan lain sebagaimana uraian yang dimaksud adalah kemungkinan terjadinya pertumbuhan pembangunan yang merata dalam wilayah studi sebagai akibat pengembangan fasilitas yang telah ada. Dengan pertimbangan diatas dimana wilayah yang dimaksud akan menjadi embrio pertumbuhan permukiman.

1. Daya Tampung dan Alokasi Lahan
Selain analisis tata ruang yang telah dikemukakan selanjutnya akan dikemukakan pula mengenai daya tampung dan alokasi lahan yang akan dikembangkan. Dalam memenuhi daya tampung dan alokasi lahan yang akan direncanakan, aspek analisis tata ruang tetap menjadi salah satu pertimbangan utama khususnya menyangkut tingkat daya dukung atau tingkat kemampuan dari lahan yang ada.
Berdasarkan hasil analisis dengan melihat dan menilai kondisi lahan pada wialyah studi baik kondisi topografi, pola penggunaan lahan, keberadaan sungai besar dan sungai kecil maka besarnya luas lahan yang dibutuhkan sesuai dengan tingkat daya tampung lahannya adalah sebagai berikut :
Lahan Pekarangan berjumlah 300 K dengan luas lahan per KK adalah 0,25 ha sehingga total luas lahannya adalah 75 Ha yang dialokasikan pada wilayah yang kemiringan lerenganya termasuk wilayah yang datar hingga bergelombang (0 – 15%).
Pusat Desa dan Fasilitas Umum dengan luas lahannya adalah 6 Ha yang dialokasikan pada lokasi yang dikelilingi oleh lahan permukiman.
Lahan Usaha I seluas 0,75 Ha sehingga total luas lahan yang dibutuhkan adalah 225 Ha yang dialokasikan pada wilayah yang memiliki kemiringan lereng antara 16-25% sebagaimana dalam uraian analisis tata ruang.
Lahan Usaha II seluas 1 Ha sehingga total luas lahan yang dibutuhkan adalah 300 Ha yang dialokasikan pada wilayah yang memiliki kisaran lereng antara 16 – 25% sebagaimana dalam uraian analisis tata ruang.
Sehubungan dengan peruntukan lahan yang akan direncanakan dan besarnya tingkat daya tampung yang akan dikembangkan pada wilayah studi, maka total luas lahan dibutuhkan adalah 600 Ha (belum termasuk peruntukkan luas lahan penunjang lainnya).
Penyiapan lahan merupakan kegiatan yang menyangkut penentuan tata ruang permukiman, kegiatan pembukaan lahan, metode pembukaan lahan, perkiraan jumlah penduduk yang terkena proyek serta volume dan biaya penyiapan lahan.

2. Konsep Pengembangan Permukiman.
Tata ruang permukiman merupakan konsep pemanfaatan ruang sesuai dengan kebutuhan dasar hasil analisis. Rencana pengembangan permukiman Transmigrasi Rante Buluang menyangkut pola penataan dalam pemanfaatan ruang untuk kebutuhan antara lain :
· Lahan Pekarangan
· Lahan Kegiatan Budidaya I
· Lahan Kegiatan Budidaya II
· Pusat Desa dan Fasilitas Umum

Rencana pengembangan permukiman Transmigrasi di Rante Buluang dibuat dengan skala peta 1 : 5000 dengan penentuaan blok-blok permukiman sesuai dengan daya tampung lahan yang tersedia, sedangkan rencana tata ruang dengan skala peta 1 : 5000 diarahkan dengan pengaturan kapling-kapling sesuai dengan peruntukan lahan yang tersedia. Besaran lahan dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4.
Alokasi Pemanfaatan Lahan Lokasi Transmigrasi Rante Buluang


No

L u a s
(Ha) (%)
1
2
3
4
5
6
7
8 Lahan Pekarangan
Lahan Usaha I
Lahan Usaha II
Lahan Fas. Umum.
Jalan Utama
Jalan Desa
Jalan Kebun
Lahan Konservasi 75,00
225,00
300,00
13,80
2,39
7,87
5,84
859,67 5,09
15,18
20,19
0,97
0,19
0,58
0,39
57,39
J U M L A H 1.489,21 100,00
Sumber : Hasil analisa , Tahun 2007

Sedangkan daya tampung kawasan permukiman transmigrasi di bagi dalam 3 blok utama, sebagaimana pada tabel 5





Tabel 5.
Daya Tampung Menurut Blok Permukiman Transmigrasi

No Daya Tampung
LP
(KK) LU I
(KK) LU II
(KK)
1
2
3
4
5
6 A
B
C
D
E
F 60
60
30
60
60
30 60
60
30
60
60
30 60
60
30
60
60
30
Jumlah 300 300 300
Sumber :Hasil analisis , Tahun 2007

3. Rencana Kebutuhan Ruang.
Volume penyiapan lahan menyangkut biaya pembukaan lahan sesuai dengan peruntukan dari masing-masing elemen yang dibutuhkan, untuk lebih jelasnya perincian kebutuhan lahan dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6.
Volume Penyiapan Lahan

Jenis Penggunaan Lahan
Luas
Ha %
1
2
3
4
5


6 L. Pekarangan
Lahan Usaha I
Lahan Usaha II
Fasilitas Umum
Jaringan Jalan;
§1 Jalan Utama
§2 Jalan Desa
§3 Jalan Kebun
Lahan Konservasi 75
225
300
13.80

2.39
7.87
5.84
859.67 5.09
15.18
20.19
0.97

0.19
0.58
0.39
57.39
Jumlah 1.489,21 100.00
Sumber : Hasil analisis , Tahun 2007

4. Rencana Pengembangan Permukiman
Penyediaan sarana dan prasarana permukiman merupakan kegiatan tahap selanjutnya dari pengembangan kawasan Pemukiman Transmigrasi Rante Buluang Kelurahan Sinyonyoi. Kegiatan penyiapan bangunan permukiman menyangkut kondisi lahan, ketersediaan material bangunan dan jenis bangunan.


Kondisi Lahan
Kondisi lahan yang diperuntukkan untuk lahan permukiman merupakan bentuk lahan dengan kisaran lereng antara 0 – 15 % yang dikategorikan sebagai lahan yang datar hingga bergelombang. Ditinjau dari daya dukung lahannya, memiliki daya dukung lahan yang tinggi dalam arti sesuai bagi peruntukkan lahan terbangun. Berdasarkan kondisi lahan yang dimaksud diatas, khususnya pola yang ada merupakan areal yang pada umumnya ditumbuhi oleh tumbuhan semak belukar, kebun campuran, dan hutan produksi terbatas yang dikategorikan sebagai lahan yang kurang terawat karena telah ditinggalkan oleh penduduk dan tidak digarap.

b. Ketersediaan Material Bangunan
Untuk bahan bangunan berupa kayu, balok, dan papan yang berfungsi sebagai dinding bangunan serta semen, sebagian kecil bahannya terdapat disekitar lokasi survey. Akan tetapi bahan bangunan tersebut pada umumnya diperoleh di pusat pemasaran regional (Kota Mamuju). Hal ini didasarkan perbedaan harga untuk pasar lokal dan pasar regional mengingat jumlah bahan bangunan yang dibutuhkan untuk program yang akan dilaksanakan sangat banyak. Dengan demikian ditinjau dari tingkat kemudahan untuk memperoleh bahan yang dimaksud juga merupakan bukan suatu kendala bagi pengembangannya karena lokasi survey untuk menuju ke pusat kota memiliki akses yang tinggi dalam arti mudah dicapai karena dilalui atau berada dekat dengan jalan poros yang menghubungkan lokasi survey dengan pusat Kota Mamuju.
c. Jenis Bangunan
Kebutuhan penyediaan bangunan tentunya harus memperhatikan jenis bangunan, dimana jenis bangunan yang menyangkut bangunan rumah transmigran dan fasilitas umum disarankan sesuai dengan karakteristik atau kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Mengingat calon transmigran dari daerah setempat dan potensi yang ada, dijadikan sebagai pertimbangan untuk penentuan jenis bangunannya.

d. Fasilitas Umum
Penentuan kebutuhan bangunan fasilitas umum disesuaikan dengan kebutuhan transmigran daerah setempat serta pertimbangan daerah usaha transmigran. Bangunan fasilitas umum sebaiknya dengan konstruksi permanen mengingat bangunan ini mudah dan dapat mengurangi biaya perawatan/ pemeliharaan. Disamping itu pemanfaatan bangunan tersebut memiliki jangka waktu cukup panjang.
Pertimbangan diatas bukan merupakan suatu keharusan yang mutlak untuk dilakukan, hal ini disesuaikan dengan kondisi dan keberadaanya. Sebagaimana dengan wilayah pada lokasi survey yang saat ini telah terdapat fasilitas umum yang keberadaannya bukan pada lahan permukiman, namun masih dalam wilayah Kelurahan Sinyonyoi.
Untuk mengantisipasi timbulnya kesenjangan sosial dalam masyarakat dan adanya pemerataan petumbuhan pembangunan wilayah, maka fasilitas tersebut sebaiknya ditetapkan dan dikembangkan sebagai fasilitas pendidikan baik untuk masa sekarang maupun untuk masa yang akan datang, khususnya bagi calon transmigran di Kelurahan Sinyonyoi dan para transmigran yang telah ada. Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah fasilitas pendidikan tersebut mengenai lokasinya akan direncanakan berada atau dilalui jalan poros yang menghubungkan wilayah Kelurahan Sinyonyoi dengan wilayah desa lainnya serta wilayah calon transmigran dengan wilayah transmigran yang telah ada.

e. Perumahan Transmigran
Desain bangunan rumah transmigran sesuai dengan kebutuhan sebanyak 300 KK, sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat. Hal ini untuk menciptakan rasa aman, tenang, bagi para transmigran. Bangunan tersebut perlu pula diupayakan modifikasi agar kondisi bangunan dan lingkungan perumahan memenuhi standar kelayakan huni, yaitu rumah yang sehat bersih.
Konstruksi bangunan sebaiknya semi permanen, yaitu bangunan dinding rumah setengah pasangan batu dan setengah pasangan kayu.
Peletakan rumah transmigran membentuk 3 (tiga) blok yang mengelompok berhadapan, hal ini untuk menciptakan keterkaitan antar transmigran agar lebih kuat, serta pengaturan dalam pemeliharaan jalan dapat dilakukan bersama-sama, selain itu calon transmigran dapat memanfaatkan 1 sumur bor untuk 5 (lima) KK.

f. Penyediaan Air Bersih
Berdasarkan hasil pengamatan sumber air bersih di sekitar lokasi survey, khususnya di Kelurahan Sinyonyoi dan desa-desa sekitarnya, menunjukkan sumber air bersih umumnya didapat dari sumber air sungai dan sumur bor. Hasil uji dan pengukuran kedalaman sumur-sumur tersebut dengan kedalaman 30 meter. Dalam satu sumur bor mempunyai debit cukup untuk mencukupi kebutuhan 5 (lima) KK.
Berdasarkan hasil analisis sumber air bersih di atas, maka pengadaan air bersih untuk memenuhi kebutuhan 300 KK diprioritaskan melalui pemanfaatan sumber air sungai dan sumur bor.


Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan hasil studi pengembangan permukiman transmigrasi Rante Buluang maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
Aksesibilitas menuju kawasan permukiman transmigrasi Rante Bulung masih relatif rendah, hal tersebut disebabkan oleh kondisi jaringan jalan yang berupa tanah.
Kemirinngan lahan lokasi studi Rante Buluang bervariasi dari datar hingga bergunung, sehingga harus diperhatikan dalam pengembangan kawasan, terutama untuk lahan permukiman dan fasilitasnya.
Dengan mempertimbangkan segala aspek faktor pembatas seperti tanah, lereng, iklim, drainase, permeabilitas, kesuburan tanah dan lain sebagainya, maka kesesuaian lahan di lokasi studi adalah Sesuai Marginal S3 dengan faktor pembatas utama adalah kelerengan dan kesuburan tanah, maka tingkat kesesuaian lahan untuk pengembangan kawasan transmigrasi relative baik.
Untuk memenuhi Kebutuhan air baku guna memenuhi keperluan hidup sehari-hari adalah dengan menggunakan sumber air permukaan (sungai) dengan sistem perpipaan.
Kelayakan usaha transmigrasi yang dimungkinkan dan memenuhi kriteria sebagai kawasan transmigrasi, karena layak huni, layak usaha dan layak berkembang.

Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, maka dalam pengembangan permukiman transmigrasi di Kampung Rante Buluang Kabupaten Mamuju, disarankan sebagai berikut;
Dari aspek pencapaian lokasi perlu rehabilitasi jalan penghubung antara lokasi studi dengan daerah luar. Perbaikan ini baik berupa perbaikan terase jalan, elevasi maupun jenis perkerasan. Keberadaan jalan ini merupakan penghubung utama dengan panjang 5 Km.
Dalam melaksanakan pembukaan lahan disarankan untuk memakai alat-alat manual atau semi manual. Hal ini untuk menjaga agar jangan sampai Top Soil di lokasi studi jadi rusak.
Mengingat transmigrasi yang akan dilaksanakan adalah transmigrasi lokal, yaitu para penduduk sekitar Kelurahan Sinyonyoi serta desa-desa sekitarnya, maka sebaiknya perlu diadakan penyuluhan tentang pertanian dan peternakan sebagai pemicu untuk bisa lebih cepat maju, dan meninggalkan pertanian pola lama (ladang berpindah).
Untuk mengantisipasi adanya dampak negatif, pada saat pembukaan lahan atau setelah adanya pembukaan lahan, perlu adanya pengawasan khusus serta pengarahan terhadap penggunaan lahan tersebut.
Pada tahun pertama penempatan, kebutuhan Saprotan (sarana produksi pertanian) yang dianjurkan di subsidi oleh pemerintah. Hal ini dimakudkan agar masukan pertanian yang dianjurkan diharapkan dapat meningkatkan semangat dan gairah para petani untuk mengelola lahannya secara optimal


DAFTAR PUSTAKA

Operasional Unit Pemukiman Transmigrasi, Dirjen PSKT, 2002.


Linsley et al., 1977. Hidrology Foor Engineer, Jakarta

Permana, Tuti., 1980. Perencanaan Teknis Satuan Pemukiman Transmigrasi. Departemen PU Bekerjasama dengan ITB Bandung,

Tracey, J. White. 1977. Transmigrasi Planning Manual Volume. II Phiysical Planning, UNPAD/FAO Project INS/72/005 Planning and Development of Transmigration Schemess, Jakarta.

Schmidt. F.H Fergusson, 1976. Rainfall Types Based on Wet and Dry Period Ration for Indonesia with Western New Guines. Verhendelingen 42, Jawatan Meterorologi dan geofisika, Jakarta,

Troyer, H., 1976. Weather Classification and Plant Weather Relationship. SRI/FAO. Working Paper No. 11 Bogor,

Desaunettes, I.R., 1977. Catalogue of Kind Form for Indonesia, Working Paper, No.13, FAO, AGL. TF/INS/44.

………..1977., Pedoman Bercocok Tanam Padi, Palawija dan Sayuran, Badan Pengendali Bimas, Departemen Pertanian Indonesia, Jakarta.

0 Leco Leco na ::

Posting Komentar

Komentar FB

ya Like Tappami Tori

Semua tentang AlterBridge

 

Mandar Photo Gallery Design by Insight © 2009